Sabtu, 24 September 2011

Beda Harga

Hi sobat, gw punya cerita nih...(untuk dijadikan film sih)
trus gw jg lg nyari2 pemerannya nih (cowok)..ada yg berminat gag??
tp sebelumnya dibaca dulu ya naskah-nya.., cuma satu episode kok. gag sampai Beda Harga 6, seperti Teransjung 6 hihihi....^^


Hendra Production
Mempersembahkan

Roma dan Rani sejoli mahasiswa yang tinggal di sebuah pondokan mahasiswa.

Suatu hari keduanya ke mal untuk melepaskan penat.
Setelah lama berkeliling di mal, keduanya hendak pulang ke tempat kosnya.
Dalam perjalanan pulang di bawah terik matahari, keduanya diserang rasa haus.
Mereka pun mencari warung kaki lima untuk menghilangkan dahaganya.
Mereka mencari warung kaki lima karena isi dompetnya sudah menipis.
Setiba di sebuah warung, mereka memperhatikan daftar menu dan harganya.
Keduanya senang minum teh (yaa...namax juga sejoli)
Dalam daftar menu minuman, tertulis harga :

Teh Dingin : Rp 2.000,-
Teh Panas  : Rp 1.000,-

Karena uangnya tinggal Rp 1.000, Roma memesan teh panas yang harganya Rp 1.000,- untuk diminum bersama. Sesaat setelah teh pesanannya di antar ke mejanya, Roma pun langsung meminumnya dalam keadaan panas, sambil menahan rasa sakit di tenggorokannya.
Melihat tingkah Roma itu, sang pacar Rani kaget luar biasa. Ia pun bertanya,
“Roma, kenapa kamu langsung habisi teh itu dalam keadaan masih panas?”
“Lihat itu (sambil menunjuk daftar menu), kalau tehnya sudah dingin harganya jadi Rp 2.000”, jawab Roma."


cerita ini hanya fiktif belaka. bila ada kesamaan nama, pemeran dan kisah dalam cerita ini (aduh kasian amat) hehee.... engga’lah. jangan percaya tapi boleh ketawa jika memang lucu. jangan ditiru tapi kalau kepepet bolehlah.
heheheee......


gimana, tertarik gag jadi pemerannya???

Rabu, 21 September 2011

menyoal remisi bagi koruptor dan teroris

Assalamu Alaikum wr.wb.

Salam hangat untuk saudara-saudari sekalian. Semoga sapa saya kali ini menjumpai Anda dalam hati yang damai dan tegar menjalani perjalanan hidup hari ini yang pasang surut.


Judul "menyoal remisi bagi koruptor dan teroris" adalah tulisan yang akan menjadi bagian dalam proses pembelajaranku dalam hal pengamatan, pemahaman dan penulisan hasil analisis saya sendiri dalam acara Jakarta Lawyers Club (JLC) di TV ONE edisi Selasa 20 September 2011 kemarin, dengan tema "Layakkah Remisi Bagi Koruptor dan Teroris?".

Aturan mengenai pemberian remisi terhadap terpidana memang sudah dikodifikasikan dalam suatu aturan perundang-undangan. Dan aturan tersebut berlaku bagi siapapun yang berstatus terpidana dan menjalani hukumannya. Arti dari kata "siapapun" tentu kita semua sudah paham jelas makna dari kata tersebut yang menjelaskan bahwa seluruh orang, siapa saja dia, apapun profesi dan latar belakangnya tentu berhak atas pemberian remisi. Namun belakangan marak diperbincangkan dan dipermasalahkan oleh publik khususnya mereka yang berkecimpung di dunia hukum dengan berbagai latar belakang profesi mengenai pemberian remisi bagi koruptor dan teroris. Beberapa kalangan menyayangkan sikap Menkumham yang memberi remisi kepada koruptor di tengah gencarnya upaya pembarantasan korupsi yang dilakukan oleh penegak hukum dalam hal ini Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Menjadi pertanyaan besar bagi publik ketika Menkumham memberikan pernyataan tentang remisi tersebut. Ada apa sebenarnya dibalik pemberian remisi bagi koruptor? Bukankah hal itu hanya melemahkan penegakan hukum dan menghilangkan efek jera bagi mereka (koruptor)?
Jawabnya, tidak ada apapun dibalik pemberian remisi. "Menkumham mengatakan, tugas saya sebagai menteri adalah dalam hal penegakan hukum di Indonesia, dan masalah remisi itu saya hanya menjalankan apa yang telah diamanatkan oleh undang-undang. Di mana telah diamanatkan undang-undang bahwa siapapun yang menjadi terpidana berhak atas pemberian remisi setiap tahunnya jika berkelakuan baik selama dalam penjara. Jadi, sangat jelas apa yang diamanatkan undang-undang. Bukan keinginan saya. Saya hanya berusaha untuk konsisten menegakkan hukum berdasarkan  aturan perundang-undangan yang berlaku." kata pak Menteri.

Perbincangan di JLC tentang remisi bagi koruptor menjadi hangat dan menarik ketika budayawan Sudjiwo Tewo mendapat giliran berbicara dan mengemukakan pendapatnya yang intinya bahwa dia tidak setuju dengan adanya remisi bagi koruptor dan teroris karena tindak pidana ini dinilai sangat merugikan rakyat sehingga tidak ada ampun bagi mereka. Sudjiwo Tewo juga mengkritik menkumham terkait pernyataan pak menteri tentang konsistensi aturan perundang-undangan. "Kalau memang demikian, kenapa masih banyak pengangguran? Bukankah dalam aturan undang-undang mengatakan setiap orang berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak. Tapi kenapa pengiriman TKI ke luar negeri semakin pesat? Di mana lapangan pekerjaan yang dimaksud?
Belum lagi aturan mengenai bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh pemerintah untuk kesejahteraan rakyat. Buktinya mana? Coba lihat freeport di Papua sana, 90% dikuasai pihak asing. Di mana pemerintah?" tanya mbah tedjo.

Pro kontra mengenai layak atau tidak koruptor dan teroris mendapat remisi membuat saya menarik kesimpulan atas diskusi JLC bahwa menurut saya, pernyataan pak menteri tentang remisi bagi koruptor dan teroris sudah benar berdasarkan aturan perundang-undangan. Semua sudah sesuai dengan aturan tentang persamaan hak setiap orang di hadapan hukum. Karena jika remisi dihilangkan tanpa merubah peraturan perundang-undangan yang dimaksud tentu menimbulkan masalah baru, yakni terjadinya pelanggaran hak asasi manusia sesuai yang tertuang dalam UUD 1945 (Amandemen) dalam pasal 27 ayat 1 yang berbunyi, segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintah wajib menjunjung hukum dengan tidak ada kecualinya. Kalimat terakhir "tidak ada kecualinya" memberi penjelasan bahwa siapapun dia berhak mendapat perlakuan yang sama di hadapan hukum. Jadi, sangat jelas sebenarnya maksud dari aturan tersebut. Persoalan terpidananya adalah koruptor atau bukan, selama dia berkelakuan baik dalam penjara maka berhak mendapatkan remisi. Begitu mulianya aturan tersebut yang menghargai perlakuan baik seseorang.
Apakah hanya karena satu peraturan saja yang tidak ingin diberlakukan bagi orang tertentu (remisi bagi koruptor) sehingga harus mengorbankan aturan lainnya tentang hak asasi manusia?

Sebenarnya, sikap pak menteri yang konsisten dalam menjalankan amanat undang-undang ini patut di apresiasi. Hanya yang disayangkan adalah persoalan momennya saja yang kurang tepat. Di mana pada saat bersamaan bangsa ini sedang dirundung segelumit permasalahan di bidang hukum terkait tindak pidana korupsi yang mana pernyataan Menkumham tersebut bermaksud menerapkan hukum dan keadilan dengan memberikan remisi bagi koruptor. Tentu hal ini menjadi kontroversial di tengah gencarnya pemberantasan korupsi oleh para penegak hukum.

Namun, di sisi lain saya sepaham dengan pendapat dari mbah Sudjiwo Tewo tentang komitmen pemerintah dalam hal penerapan/penegakan hukum yang konsisten. Jika memang ingin konsisten untuk tetap menerapkan aturan hukum dengan memberi remisi bagi koruptor dan teroris, pemerintah seharusnya konsisten juga dengan penerapan aturan hukum lainnya. Misalnya aturan yang termaktub dalam UUD 1945 bahwa fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara. Faktanya masih banyak anak-anak bangsa di luar sana yang hidupnya terkatung-katung. Selain itu masalah pendidikan, tidak sedikit juga anak-anak miskin di luar sana yang tidak mendapat kesempatan menikmati pendidikan hanya karena persoalan biaya. Padahal undang-undang telah menjamin bahwa setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Pertanyaannya, gimana mau wajib ikut pendidikan kalau aturan sekolah mengharuskan mereka (anak-anak miskin) untuk membayar biaya sekolah? Sementara dalam aturan pemerintah sendiri yang memiliki kewajiban untuk membiayainya adalah pemerintah. Di mana pemerintah?

Belum lagi persoalan pengangguran. Undang-undang mengatur bahwa tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Berhak sih berhak, tapi lapangan pekerjaannya mana? Apakah kewajiban untuk membuka lapangan pekerjaan dibebankan kepada negara tetangga? Lalu di mana peran pemerintah? Kenapa jumlah TKI yang ke luar negeri selalu meningkat? Seiring meningkatnya pula pengiriman TKI dari negara tetangga yang sudah teraniaya oleh majikannya. Apakah itu tergolong penghidupan yang layak?

Kesimpulannya, sesuai dengan aturan perundang-undangan tentang pemasyarakatan bahwa remisi (pemotongan masa tahanan) memang adalah hak dari setiap warga binaan di lembaga pemasyarakatan, siapapun dia. Kalau mau remisi dihilangkan, ubah UU-nya. Sebaliknya, jika ingin remisi tetap ada, terapkan juga aturan-aturan lainnya yang mendasar agar tercipta keadilan di tengah masyarakat. Dan yang lebih krusial dari itu adalah vonis hukuman di sidang pengadilan terhadap terpidana korupsi dan tindak pidana yangg tergolong extra ordinary crime, harus lebih berat dari tuntutan jaksa. Hanya saja pemerintah terkadang lalai dalam konsistensinya untuk menerapkan aturan tersebut secara menyeluruh. Pemerintah terkesan memberi "remisi" (pemotongan) lain terhadap penerapan aturan hukum lainnya. Jadi, jangan hanya fokus pada satu permasalahan saja lalu masalah lain yang mendasar dikesampingkan.

Selasa, 20 September 2011

berharap lebih baik

Untukku dan engkau yang menanti
perubahan yang melapangkan hati,

mari sama-sama kita bisikkan dengan mesra kepada Tuhan kita;

Tuhanku Yang Maha Sejahtera,

Aku mohon maaf karena telah
memelihara keraguan di hati ini,
yang kutahu hanya melemahkan upayaku.

Dampingilah upayaku
untuk membangun rasa pasti yang kuat
mengenai hakku untuk hidup damai dan sejahtera.

Bangunkanlah aku esok pagi
dengan hati yang berketetapan besar,
untuk menjadi pembaru nasibku sendiri.

Tuhan, jangan Kau lepas pegangan-Mu pada pundakku.

Aamiin.

cermin kebobrokan intelektual muda


Rabu, 14 September 2011 | 23:54:41 WITA | 181 HITS
Malu Melihat Tawuran di Unhas

YTH Pak Rektor Unhas, saya alumni Unhas merasa malu melihat tawuran kembali terjadi di kampus. Ambil tindakan tegas agar penyakit kampungan ini tidak terulang di masa akan datang, pecat mahasiswa yang menjadi provokatornya, terutama mahasiswa yang pertama memukul.  +628135591054

Begitulah kira-kira ucapan dari seorang alumni unhas yang dikirim via sms kepada harian fajar sebagai bentuk kekecewaan atas tingkah kampungan dari para kaum intelektual muda di kampus Universitas Hasanuddin (UNHAS) Makassar. Sangat dimaklumi ucapan dari alumni Unhas tersebut yang menginginkan pemecatan terhadap mahasiswa yang menjadi dalang dari tawuran antar fakultas tersebut. Saya pribadi mendukung sepenuhnya jika seluruh lembaga pendidikan di Indonesia Timur dalam hal ini dunia kampus memberlakukan peraturan tegas seperti itu. Jika memang terbukti salah, jangan segan untuk menindak mereka (mahasiswa) yang melakukan aksi brutal bin anarkis.

Hal senada juga disampaikan oleh beberapa kalangan khususnya mereka (tak terkecuali saya) yang juga pernah berstatus sebagai mahasiswa namun tidak sebobrok itu tingkah lakunya. Mereka menyesalkan sikap dari beberapa teman-teman/adik-adik mahasiswa yang bermental kapas yang sangat mudah disulut api kemarahan. Di Makassar sendiri setidaknya ada beberapa kampus yang tergolong terkemuka dalam hal kualitas pendidikan baik itu negeri ataupun swasta yang dinilai dari alumninya yang berhasil dalam dunia kerja dengan membawa nama baik almamaternya. Sebut saja Univ. Hasanuddin (UNHAS), Univ. Muslim Indonesia (UMI), Universitas Negeri Makassar (UNM), Univ. Islam Negeri (UIN) dan masih banyak lagi. Hal yang berlawanan kiranya ketika sebuah kampus menjadi "terkemuka" bukan dari kualitas pendidikannya, tenaga pendidiknya, mahasiswa dan lulusannya (alumninya) melainkan "terkemuka" karena aksi demonstrasi mahasiswa yang kadang-kadang bahkan sering mengganggu ketertiban umum. Belum lagi kebrutalan dan anarkisme yang sering dipertontonkan oleh para intelektual kita tanpa menyadari kebobrokan merekalah yang jadi pertunjukan bagi masyarakat umum.

Saya sendiri yang juga  seorang alumni di salah satu Univ. Swasta di Makassar, sebut saja Universitas Muslim Indonesia (UMI) merasa resah dengan kejadian tersebut meski bukan dari almamater saya. UMI yang terkenal dengan visi-misinya yang intinya bertujuan menciptakan lulusan intelektual berakhlaqul qarimah yang berlandaskan pada pendekatan spiritual juga masih sering menjadi "terkemuka" dalam hal aksi-aksi yang merugikan banyak pihak termasuk mereka (mahasiswa) sendiri. Teringat dengan pengalaman sewaktu kuliah dulu, saya juga seringkali diajak ikut melakukan aksi demonstrasi oleh para senior saat status saya masih MABA (Mahasiswa Baru) hingga menjelang semester akhir. Namun saya berusaha menghindar setiap kali ada ajakan dari senior untuk melakukan aksi. Bersama seorang teman (Zulham Umar) waktu itu kami pernah di ajak senior (kakak letting di fakultas) untuk ikut dalam sebuah aksi turun ke jalan melakukan demonstrasi untuk menolak kebijakan pemerintah yang dirasa tidak pro rakyat. Tapi karena tidak sepaham, dan memang kami tidak suka melakukan aksi seperti itu, jadi kami putuskan membuat alasan untuk menghindar/tidak ikut. Jadi waktu itu alasannya kami meminta ijin kepada senior untuk kembali ke rumah sebentar mengambil jas almamater kami yang kelupaan. Namun setiba di rumah masing-masing kami memilih untuk istirahat (tidur). Alhasil kamipun berhasil melakukan "aksi" menghindar secara diam-diam. Hehee...

Kembali ke topik. Tindakan anarkis, brutal adalah tindakan yang tidak dibenarkan oleh aturan hukum di negara kita. Tak terkecuali bagi mereka, para intelektual muda yang seharusnya menjadi pilar dalam penegakan demokrasi di negeri ini. Sudah saatnya pihak birokrat kampus mengadakan evalusasi terhadap peraturan menyangkut pemberhentian/pemecatan  mahasiswa yang biasa dikenal dengan istilah Drop Out (DO). Kalau selama ini aturan tersebut hanya menitikberatkan pada pelanggaran yang dilakukan oleh mahasiswa dalam hal akademik, maka perlu diperhatikan untuk menambah aturan tentang pemecatan mahasiswa yang melakukan tindakan anarkis di lingkungan Universitas. Ini juga menyangkut nama baik sebuah kampus. Karena selama ini citra pendidikan tercoreng dengan aksi-aksi merugikan tersebut. Lembaga pendidikan yang seharusnya mencetak para intelektual muda yang siap bersaing di dunia kerja malah beralih fungsi menjadi lembaga pencetak "petinju" (yang sok jagoan tentunya). Bisa kebayang gak jika kita melamar kerja di suatu instansi, namun bukan sambutan berupa pujian yang dilayangkan para pegawai/karyawan instansi tersebut melainkan tentang keburukan kampus kita. Sebuah fakta yang memang pernah saya alami sendiri.
Ketika melamar kerja saya ditanya, 

Panitia : "alumni dari mana de?" tanya panitia. 
Saya : "Alumni dari UMI Makassar pak!" jawabku. 
Panitia : "Oo...UMI Makassar, yang mahasiswanya suka demo itu yaa? yang suka tawuran dan memacetkan lalu lintas ya??" tanya bapak itu yang kelihatannya kesal.
Saya : "Memang mahasiswa UMI seringkali melakukan aksi demikian pak, tapi tidak berarti semua mahasiswanya berwatak demikian. Saya salah satu dari sekian yang juga merasa terganggu dengan aksi-aksi tersebut." jawabku bermaksud meluruskan.
Panitia : "Ahh...kalian semua sama sajalah.
Saya : (terdiam sambil melayangkan senyum kepada bapak yang mungkin men-judge UMI dan lulusannya buruk)

Jadi, tindakan seperti ini sebenarnya yang perlu dihilangkan oleh teman-teman mahasiswa. Dampaknya sangat dirasakan mahasiswa lainnya. Yang saya alami mungkin satu contoh kecil tidak baiknya citra kita (alumni) di dunia kerja. Untungnya waktu itu berkas saya diterima, tapi kalau ditolak hanya karena alasan citra kampus yang buruk. Mau di bawa ke mana ijazah saudara -saudara mahasiswa kalau semua instansi/lembaga bersikap seperti itu??

Jangan hanya masalah sepele, bentrok lagi. Seringkali yang menjadi pemicu bentrok yakni karena adanya unsur SARA (Suku, Agama, Ras dan Antargolongan). Persoalan antar pribadi bisa meningkat menjadi persoalan SARA. Karena semua merasa dirinya benar tanpa ada yang mau mengambil sikap gentle untuk duduk bersama menyelesaikan permasalahan dengan kepala dingin dan hati yang tenang, maka terjadilah kebobrokan seperti di Unhas kemarin. Kapan selesainya suatu masalah jika semua masih menyisakan dendam yang harus terbalaskan?? Tradisi seperti ini sangat mirip dengan kebiasaan suku-suku primitif di hutan-hutan sana. Atau memang "mereka" (pelaku anarkisme) masih satu suku dengan mereka yang hidup di hutan sana??

Seandainya semua mahasiswa bisa menanamkan dalam hatinya sikap bermusyawarah, saya yakin tidak ada kejadian seperti di Unhas kemarin. Dan dengan begitu jiwa intelektual seorang mahasiswa nampak. Perlu diingat bahwa solusi datang dari hati yang tenang, bukan dari kepanikan atau emosi. Maka dari itu be patient brother. Kami semua mengharapkan seperti itu. Dan saya, serta seluruh masyarakat Indonesia kebanyakan juga pernah berstatus sebagai mahasiswa. Tapi mental kami tidak sampai begitu-begitu amat bobroknya. Intinya, menghindari hal seperti itu terulang kembali butuh pengendalian diri yang dilandaskan oleh kuatnya keimanan dan kesadaran hukum. Yakin pasti berhasil.

Senin, 19 September 2011

Rindu Sekolah - My Story

SEKOLAH TERCINTA - SMANTIG SOPPENG
Assalamu Alaikum wr.wb.

Hari ini, kembali saya teringat dengan sebuah kenangan. Kenangan yang merupakan sebuah memori indah dalam perjalanan kehidupanku. Dalam prosesku mencari jati diri. Yaa.., kenangan saat sekolah SMA tahun 2002-2005 silam.

Malam ini di tengah sibuknya penduduk kota dengan aktifitas mereka masing-masing, di tengah ramainya lalu lintas di alun-alun kota Soppeng saya mencoba untuk meluangkan waktu dengan sebuah catatan tentang kenangan bersama mereka (teman terbaik) yang menjadi sahabat dalam menuntut ilmu 3 tahun lamanya di sekolah kami tercinta SMA Negeri Watansoppeng.

Sore tadi saya menyempatkan diri untuk jalan-jalan di sekolah. Bukan tanpa alasan dan tujuan sih. Saya bermaksud memasang sebuah iklan di MADING sekolah tentang sebuah ajakan adik-adik (pelajar) di sekolah untuk mewujudkan prestasi mereka di bidang olahraga khususnya beladiri karate.

Di sekolah tadi tidak satupun orang yang saya temui saat memasang iklan itu. Jadi, saya menyempatkan diri untuk menjajaki semua ruangan kelas saat sekolah dulu. Saat melihat semua bangunan yang ada di sekolah, membuat saya bangga dengan peningkatan yang terjadi dengan sekolah ini. Luar biasa, ada banyak sekali bangunan/gedung tambahan sebagai tempat baru untuk belajar para siswa. Yang mana dulu tidak sebanyak ini bangunannya. Bangga dengan peningkatan yang terjadi di sekolah membuat saya rindu akan sekolah, ingin kembali duduk di salah satu ruangan kelasnya dan mengikuti pelajaran seperti dulu. Namun, semua sudah berlalu. Untuk kembali di masa itu, hanya ingatan yang dapat membawaku ke sana dan melalui catatan ini saya ingin terus mengingatnya dan berusaha untuk menghidupkan suasana itu.

Kenangan itu bermula pada saat duduk di bangku kelas 1 SMA. Keluguan kami (para siswa) yang baru saja tamat sekolah (SMP) membuat perkenalan di antara kami masih terbilang kaku. Semua masih beradaptasi. Namun karena di sekolah itu ada beberapa teman yang juga teman sekolah waktu SD dan SMP kemarin sehingga tidak sepenuhnya kami menjadi orang baru diantara teman-teman lainnya.
Masa Orientasi Siswa (MOS) adalah masa pengenalan antara sesama siswa baru dan para kakak kelas (biasanya disebut senior). Dalam masa itu kami saling kenal satu sama lain.
Tidak salah kata-kata Obbie Messakh dalam lirik lagunya, "tiada masa paling indah, masa-masa di sekolah". Memang indah saat sekolah itu, apalagi jika kita mengalami sebuah ikatan kebersamaan dalam sebuah persahabatan dengan teman-teman seperjuangan dulu yang bisa eksis hingga saat ini dan kapanpun. Bagi saya itulah saat terindah dalam sebuah masa, tak terkecuali masa sekolah. Hanya saja waktu SMA dulu saya tidak sempat mengalami yang namanya pacaran (cinta monyet kata orang). Hehehe...(jadi malu). Tapi hal itu tidak lalu membuat saya merasa minder atau malu untuk bergaul. Justru hal itu menjadi semangat tersendiri bagi saya untuk bergaul seluas-luasnya (positif) dengan teman-teman sekolah tanpa ada perasaan dibatasi oleh suatu hubungan. Banyak diantara teman-teman yang mengalami hal itu. Waktu untuk bergaul dengan teman pada saat istirahat belajar di sekolah menjadi berkurang bahkan hilang karena waktu itu diisi dengan pacaran. Meski sebenarnya ada (beberapa) di antara teman sekolah (perempuan) yang menjadi idaman dalam hati saya saat sekolah dulu. Hanya karena kurangnya keberanian saat itu membuat saya malu untuk menyatakan perasaanku. Sekarang dia sudah menikah dan memiliki seorang anak. Toh sayapun juga pernah punya perasaan cinta saat SMA dulu. Itu juga indah bagi saya, namun menjadi tidak lengkap karena tidak terkatakan.

Menjajaki gedung demi gedung, tiap ruangan kelas hingga tiba pada sebuah ruangan kelas saat saya duduk di bangku kelas 2 SMA dulu. Terhenti sejenak di depan kelas, lalu melihat diri (remember) saya  dulu yang delapan tahun lalu pernah berada di dalam ruangan kelas itu. Oh Tuhan..indahnya saat itu, saat belajar bersama teman, bercanda dengan mereka, bertengkar (non fisik) dengan mereka, dan banyak lagi yang kami lakukan saat itu. Bahkan pernah satu waktu saya menjaili teman saya yang sedang sibuk belajar hingga membuatnya jengkel dan memukul saya. Hahaha....tindakan teman saat itu memang pantas dan wajar untuk diri ini yang kecil dan usil. Yaa..sebagai pelajaranlah. Setelah kejadian itu, hari-hari kami lalui dalam keadaan saling diam satu sama lain. Mungkin karena masih labil saat itu dan semua merasa dirinya benar. Hingga dia pindah sekolah, kami tidak saling bicara. Namun, kejadian itu membuat saya belajar akan arti dari "jangan berlebihan" dan saya menjadikannya warning agar tidak terulang kembali dalam menjalin hubungan pertemanan pada saat kuliah kemarin. Keusialan saya memang berlebihan saat itu. Terima kasih sobat atas pelajarannya.

Beralih ke ruangan "kelas" saya yang lain, yakni LAB. FISIKA (lho, kok bilangnya kelas?). Yaa..., memang saat sekolah dulu bangunan sekolah masih sedikit sehingga mengharuskan pihak sekolah untuk menggunakan ruangan LAB. FISIKA sebagai ruangan kelas 3 IPS 2 agar PBM (Proses Belajar Mengajar) bisa berlangsung. Bersama kurang lebih 40 teman saya menjalani pendidikan di kelas itu dengan jurusan/konsentrasi Ilmu Pengetahuan Sosial. Beda kelas, jurusan, dan teman tentu menciptakan suatu kenangan yang lain dari kelas 2 sebelumnya. Wali kelas kami saat itu adalah Ibu Martati, seorang wanita paruh baya yang terkesan sederhana dalam berpenampilan, ramah dalam berbicara, santai dalam memberi pelajaran serta mudah. Mudah gimana maksudnya? Kenapa tidak ada penjelasan? Yaa...beliau mudah, mudah dalam hal memberi cubitan kepada muridnya yang suka main-main saat belajar di kelas, telat masuk kelas, dst. Cubitannya sih tidak sakit, karena memang hanya sebagai pelajaran untuk murid-muridnya. Cubitan itu tidak untuk semua orang (siswa), hanya mereka yang dekat dengan ibu, dalam artian akrab dengan ibu dalam hal pelajaran, juga dalam hal bercanda.
Cubitan spesial dong namanya, hehehe...., heran.. [?]
 
Hari demi hari berlalu, tanpa terasa kami berada di penghujung waktu. Ujian Nasional sudah di depan mata dengan standar nilai kelulusan saat itu 4,25. Masih terbilang rendah bila dibandingkan dengan saat ini yang sudah mencapai nilai 6 (hanya menebak). Proses belajar yang dijalani selama 3 tahun lamanya akan diuji sejauhmana pemahaman kami (para siswa) dengan 3 hari pelaksanaan UJIAN NASIONAL. Sistem Ujian Nasional yang menitikberatkan penilaian hasil ujian keseluruhan di pusat, dinilai para guru, siswa dan orang tua murid sangat merugikan. Alasannya sederhana, kami tidak setuju jika seratus persen penilaian diserahkan pada pemerintah pusat tanpa meminta pertimbangan dari pihak sekolah mengenai penilaian keseharian terhadap semua siswanya. Dengan begitu, penilaian hanya berpangkal pada hasil Ujian Nasional siswa semata. Persoalan penilaian hasil UN itu memang wajib dijadikan pokok penilaian para siswa lulus atau tidak, namun bukan berarti itulah yang utama. Sebaiknya, selain hasil UN yang menjadi penilaian, perlu diperhatikan juga bagaimana penilaian dari sekolah terhadap setiap muridnya dalam hal kepribadian siswa. Karena toh pihak sekolah-lah yang lebih tahu tentang baik buruk karakter siswanya dalam mengikuti pelajaran di sekolah. Jangan menyepelekan kondisi keseharian siswa di sekolah, karena tidak semua siswa baik budi pekertinya, rajin belajar, rajin masuk sekolah dan segala hal positif yang dilakukan siswa selama sekolah. Ada diantara mereka yang kurang baik bahkan mungkin buruk budi pekertinya, malas belajar, suka membolos pada jam pelajaran dan segala hal ngatif yang dilakukan selama di sekolah. Suatu hal yang ironi dan menyedihkan ketika seorang siswa yang baik karakternya di sekolah menjadi tidak lulus hanya karena nilai ujian nasionalnya rendah/tidak mencukupi. Sedangkan mereka yang buruk karakternya malah lulus karena nilai ujian nasionalnya cukup atau tinggi yang mungkin saja hasil contekan, baik dari buku, teman, atau seorang joki yang memberinya bocoran kunci jawaban soal.
Hal ini memang terjadi saat saya sekolah dulu, di mana seorang teman yang karakternya baik selama di sekolah, namun karena nilainya tidak mencukupi sehingga dia harus menanggung malu dengan status "tidak lulus", sementara mereka yang karakternya kurang baik berhasil lulus. Menyedihkan.

Bicara tentang Ujian Nasional juga mengingatkan saya akan sebuah kenangan lucu, unik, dan menarik. Yaa..menarik perhatian memang karena suaranya kedengaran sampai di meja pengawas waktu itu. Awalnya saya pikir gak sebesar itu suaranya, ternyata setelah lepas suaranya gede ternyata, hehe.. Padahal usaha demi usaha saya lancarkan untuk menahan tembakan itu, tapi akhirnya lolos juga. Alhasil, pengawas yang juga guru ekonomi di sekolah itu  tercengang kaget plus bingung mendengar suara itu (ekspresi mukanya penasaran sambil mencari-cari). Saya sendiri mulai salah tingkah ketika teman-teman dalam ruangan ujian menoleh ke belakang untuk mencari sumber suara itu. 
Btw, penasaran yaa..suara apa itu. Jawab gak yaa..? Mmm...suara itu..., suara itu..., suara "kentut", hihihihi...(sambil senyum dan malu menulis catatan ini).
Syukurlah waktu itu, tidak ada yang tahu pasti siapa pelakunya, kecuali seorang teman yang duduk dekat dengan saya. Sambil tertawa, teman itu berkata "ayo..ayo...kentuut yaa..?", wah saya jadi malu waktu itu karena suara teman lumayan gede saat menegur saya. Untungnya tidak ada yang peduli, mungkin karena sibuk dengan soal ujian yang rumit. Dan mungkin juga karena rumitnya soal ujian waktu itu, berimbas pada terjadinya "penembakan" oleh saya, hihihi..... 
Saya masih ingat kata dari bapak pengawas itu sesaat setelah kejadian (kayak peristiwa hukum ya bahasanya). Beliau berkata "ah..gak apa-apa, sering terjadi"...(jadi malu dengarnya) hehehee....
Tapi, tak apalah. Itu juga bagian dari kenangan masa sekolah yang tak terlupakan, takkan kembali, dan takkan terganti.

Begitu banyak sebenarnya kenangan masa sekolah dulu yang sangat indah untuk dikenang dan sayang untuk dilupakan namun tidak untuk diurai keseluruhan dalam catatan ini, karena semua sudah tercatat dalam lembaran sejarah perjalanan hidupku.

Reuni kemarin adalah saat di mana para alumni melepas kerinduan dengan teman-teman sekolah dulu, begitu juga dengan sekolah tempat kami menimbah ilmu. Harapan saya, reuni kali ini banyak teman-teman seangkatan yang hadir di acara reuni. Ternyata "banyak". Yaa..."banyak" yang datang, tapi tidak hadir alias "bolos". Mungkin mereka teringat dengan kebiasaan saat sekolah dulu yang gemar "bolos". Padahal butuh beberapa langkah menuju tempat diadakannya reuni, tapi mereka tidak melakukannya. Saya berusaha mengajaknya untuk masuk ke dalam, tapi tidak berhasil. Mereka tertahan di pintu gerbang sekolah, padahala waktu itu pintu gerbang tidak dalam keadaan tertutup. Heran saya... [?]. Saya melihat beberapa teman yang menahan diri di pintu gerbang, sebagian besar masih menyimpan sifat gengsi persis pada saat sekolah dulu. Dengan berbagai alasan mereka bertahan pada pendapatnya yang tidak logis.

But, terserahlah. Kalian sudah dewasa dari segi usia, mungkin belum dalam hal pemikiran atau mungkin juga tertahan pemikirannya waktu itu. Entahlah. Saya tidak menobatkan diri saya sebagai orang yang telah dewasa atau matang mentalnya segala macam, tapi saya belajar kawan. Saya belajar untuk mengikuti alur yang dilalui mereka yang meraih sukses. Saya hanya bertindak sewajarnya. Yaa.., "sewajarnya", maksudnya bila saya berada dalam sebuah acara yang mana kita adalah undangan, masa iyya kita tidak masuk ke tempat acara dilaksanakan. Kan salah namanya kawan. Hmmm....


Reuni yang berlangsung selama kurang lebih 3 jam lamanya dihadiri oleh Bapak Kepala Sekolah SMANTIG, Pak Harmidong dan beberapa guru-guru kami lainnya. Banyaknya alumni yang hadir, baik yang senior apalagi adik angkatan semakin menguatkan pendapat bahwa kita (angkatan 2002) semakin tua. Hehehe.... Tapi persoalan tua atau tidak, kita tetap harus eksis dalam menjaga solidaritas kita sebagai teman/sahabat yang sama-sama berjuang, sama-sama nakalnya, sama-sama dalam suka dan duka, tapi tidak sama gantengnya yaa...?? hihihihi....

Senang mengenal dan menjadi bagian dalam hidup kalian sahabat-sahabat terbaikku!
NB : Buat teman-teman yang tidak ada dalam foto ini, maaf ya.., bukan sengaja tidak mengajak kalian berfoto, tapi karena kalian pulangnya lebih awal. Sementara ada diantara teman yang ada di sekitar sekolah tapi tidak berminat untuk ikut berfoto. Mungkin karena masih eksis juga dengan sifat gengsi mereka seperti saat sekolah dulu atau kemungkinan besarnya mereka minder berfoto dengan kita karena yang di foto ini mirip artis boyband SM*SH, hehehee....
Apalagi yang paling ujung sebelah kanan, pakai kemeja plus sweater biru bertuliskan Australia. Gagahnya bukan main.. hihihihi.... (nambah dikit ya teman)



Gambar ini membuat saya berpikir...
Bahwa walaupun kita akan dipisahkan dari teman-teman kita sekarang,
pada masa yang akan datang Tuhan pasti akan mempertemukan kita dengan beberapa teman-teman lama kita.
Perubahan-perubahan akan membuat kita tertawa dan bernostalgia..
tetapi saya tidak mau menunggu hingga 40 tahun lagi agar bisa bertemu teman-teman lamaku…
Sekarang saja saya sudah kangen sama teman-teman SMU..
Walaupun sepanjang hidup kita akan mendapatkan teman baru,

namun janganlah melupakan teman-teman lama…
karena saat mereka kembali, mereka akan menjadi bagian besar hidup kita.

selamaat berjuang semua teman-temanku.
good luck :)

Jumat, 16 September 2011

Pentingnya sebuah "attitude"

Semakin lama saya hidup, semakin saya sadar
Akan pengaruh sikap dalam kehidupan
Sikap lebih penting daripada ilmu,
daripada uang, daripada kesempatan,
daripada kegagalan, daripada keberhasilan,
daripada apapun yang mungkin dikatakan
atau dilakukan seseorang.
Sikap lebih penting
daripada penampilan, karunia, atau keahlian.
Hal yang paling menakjubkan adalah
Kita memiliki pilihan untuk menghasilkan
sikap yang kita miliki pada hari itu.
Kita tidak dapat mengubah masa lalu
Kita tidak dapat mengubah tingkah laku orang
Kita tidak dapat mengubah apa yang pasti terjadi
Satu hal yang dapat kita ubah
adalah satu hal yang dapat kita kontrol,
dan itu adalah sikap kita.
Saya semakin yakin bahwa hidup adalah
10 persen dari apa yang sebenarnya terjadi pada diri kita,
dan 90 persen adalah bagaimana sikap kita menghadapinya.


Kamis, 15 September 2011

after much adventure

Assalamu Alaikum wr.wb.
Perkenalkan, saya Hendra Dinata Sadik (23). "Pendatang baru di dunia blogspot" (") kata2nya sudah benar ya..[?] (maaf jika salah). Daripada saya dibilang sok tahu lebih baik saya cegah dari awal. Sejujurnya, blog, blogspot, blogger, blogging, adalah empat suku kata dalam dunia "blog" yang belum saya pahami sepenuhnya apa arti dari beberapa kata tersebut. Jadi, saya minta pengertian pembaca apabila ada kesalahan dalam penempatan suku kata tersebut. Serta tolong dibantu dalam hal pemahaman tentang kata-kata tersebut melalui komentar anda.

Mengawali celoteh saya. Menemukan. Sebenarnya bukan menemukan, karena "blogspot" bukan saya yang menemukan (pasti) dan sudah lama mendunia namun baru sekarang saya pelajari. Jadi, kata yang tepat, memulai sesuatu yang baru (blogspot) adalah hal yang menarik bagi saya. Tentu setelah mempelajari beberapa hal sebagai langkah awal untuk memulainya. Ketertarikan saya ini sebenarnya biasa-lah/sepele atau apalah namanya, ya..semua diawali dengan melirik situs web (blogspot) salah seorang teman di twitter yang tinggal di pulau jawa sana tepatnya Purworedjo Sity. Bukan kali ini saja sih, beberapa waktu yang lalu saya juga sering melihat/membaca situs web teman di pesbuk. Karena merasa masih ada yang kurang dari petualangan saya di dunia internet sehingga saya berpikir bahwa saat ini adalah saat yang tepat untuk memiliki sebuah alamat "blog". Meskipun mungkin dan pasti sudah ada lagi hal baru di dunia internet yang sekarang tersedia untuk digunakan oleh para petualang dunia maya. But, step by step-lah. Saya fokus di blog saja dulu. Namun tidak menutup kemungkinan untuk mempelajari sesuatu yang baru seiring tuntutan zaman yang selalu bergerak maju dan cepat khususnya dalam hal teknologi.., so.., harus pintar-pintar juga mengimbanginya agar tidak ketinggalan.

Di awal pembuatan, memang saya mengalami beberapa kesulitan, namun tidak perlu saya uraikan satu persatu. Tapi kesulitan itu bisa teratasi setelah petunjuk memulai saya baca (berulang-ulang tentunya) hingga akhirnya saya pahami. Hari ini juga, Kamis 15 September 2011 akun google-ku berhasil dibuat dengan alamat web :  http://henata87.blogspot.com/ . Yaa..., mesti ada beberapa hal yang belum dilengkapi pada "blog" saya, baik itu design, tampilan, maupun tentang informasi blog, dst. Sebagai tahap awal cukuplah untuk memasang celoteh ini dulu baru melakukan pengembangan pada "blog" pribadi.

Ada banyak hal yang menjadi motivasi dan harapan dari terbuatnya "blog" ini, seperti menuliskan atau memasang, dan berbagi cerita/tulisan/foto/video/pengalaman dst. Juga mencari teman baru. Berhubung waktu kuliah kemarin, saya juga lebih senang menorehkan segala pengalaman dan pengamatan saya dalam sebuah wadah yang bernama "diary". So.., dengan adanya alamat "blog" ini, tentu kegemaran saya untuk menulis berbagai hal dalam hidup saya akan tersalurkan dengan baik dan lebih modern dibanding yang dulu dan tentu harapan saya juga agar bisa berbagi/sharing dengan seseorang tentang sebuah tulisan atau yang lainnya.

Terakhir. Harapan saya sederhana, saya hanya ingin bisa menggunakan dan mengetahui lebih luas lagi tentang dunia "blogspot". Serta yang tak kalah pentingnya, saya ingin menjadi seorang "blogger sejati" (semoga bahasanya tidak berlebihan) yang membawa pengaruh positif bagi siapapun anda yang baru dan telah lama mengenal saya. Mengenai judul posting-an pertama ini (jadi ingat judul skripsi), sengaja saya beri judul "after much adventure" karena untuk sampai pada pembuatan "blog" ini saya butuh berpetualang sehari-semalam dalam hal mempelajari, menelusuri, dan memahami cara pembuatannya. Mungkin ada yang mengatakan singkat atau bahkan terlalu lama, namun inilah awal petualanganku dan kemandirian saya untuk belajar memahami suatu hal baru. Karena hidup adalah perjalanan, olehnya itu saya berproses. Dan inilah saya, "I am, what I am!" (saya, apa yang saya!)

Tanpa berlama-lama lagi..., saya hanya ingin menyampaikan salam pertama mengakhiri celoteh panjang ini untuk melanjutkan petualanganku, bahwa :

"salam kenal dan salam hangat untuk kalian teman-teman terbaikku yang akan berbagi hal-hal baru (positif) dengan saya melalui media ini". Wassalam.