Selasa, 14 Februari 2012

tak kenal valentine

Valentine. Hari kasih sayang bagi mereka yang mungkin tidak tahu sejarah atau sekedar ikut-ikutan, atau apalah alasannya menurut versi masing-masing.

Hari kasih sayang yang bagi sebagian besar orang diperingati pada tanggal 14 februari setiap tahunnya (biasanya seperti itu). Beragam cara dilakukan untuk memperingati hari yang paling dinantikan tersebut. Khususx bagi pasangan muda-mudi, bahkan tak jarang mereka yang sudah berusia lanjut turut ambil bagian dalam perayaan tahunan ini. Mulai dari menyusun kalimat-kalimat romantis dalam kartu ucapan atau menyampaikannya secara langsung kepada belahan jiwa, menyediakan hadiah atau kejutan bagi pasangan. Entah itu bunga mawar, cincin, cokelat atau yang lainnya.

Tidak bisa dipungkiri bahwa kegiatan yang telah menjadi kebiasaan tersebut merupakan imbas dari kecenderungan sebagian besar manusia indonesia yang gemar ikut-ikutan terhadap hal-hal yang belum ada kejelasan pasti tentang sejarahnya. Beberapa orang lebih memilih ikut merayakan valentine sebagai momen paling istimewa dalam mengungkapkan sebuah perasaan (kasih sayang) kepada pasangannya. Mereka seolah-olah tidak peduli dan tak mau tahu dengan cerita atau sejarah dibalik lahirnya "valentine".   

Konsep kasih sayang memang sangat diminati oleh siapapun, karena pada dasarnya semua orang menginginkan perdamaian dan persahabatan. Tanpa mereka sadari semua ini adalah lebih tentang bisnis. Betapa tidak, coba anda bayangkan berapa banyak kuntum mawar yang dipetik, berapa lembar kartu ucapan yang berisi tulisan cinta, serta berapa banyak coklat yang harus disediakan sebagai pelengkap sempurnanya hari kasih sayang itu? Hari kasih sayang merupakan momentum bagi mall, grosir, dan retailer dan toko-toko untuk meraih pendapatan lebih banyak. Coba lihat, barang apapun yang dilabel "Valentine Edition" pasti lebih mahal daripada harga reguler. Padahal barang tersebut hanya berubah warna menjadi merah muda. 

Apapun alasannya, bagaimanapun versi dari mereka yang turut (ikut-ikutan) merayakan "Valentine Day", bagi saya tidak ada benarnya sama sekali. Tidak ada alasan formal yang dapat saya paparkan tentang pernyataan tidak setuju saya terhadap hari valentine itu. Alasan saya sederhana saja sebenarnya, saya tidak kenal dengan "valentine", tidak pernah mempelajarinya dari kecil hingga dewasa, baik dalam pendidikan formal maupun non formal. Jadi sangat tidak sehat akal saya jika kemudian saya ikut-ikutan dalam sebuah kegiatan yang sebelumnya tidak saya ketahui apa latar belakang kegiatan tersebut. Terlebih bila dampaknya sudah negatif. 

Mengikuti atau menjiplak budaya yang kita sendiri tidak tahu asal-usulnya itu sama saja dengan menjual murah sebuah keyakinan. Ya..., betapa tidak, seseorang yang turut serta dalam suatu kegiatan yang dia sendiri tidak mengerti dengan sejarahnya bisa dikategorikan orang yang mudah terpengaruh, mudah untuk dihasut, atau lebih kasarnya lagi mudah untuk dijerumuskan.

Namun semua kembali pada pribadi masing-masing. Anda-lah yang berhak dan yang akan menentukan sendiri karena sekali lagi ini menyangkut keyakinan hati seseorang.  Tapi, sebelum menutuskan, pahamilah dulu dengan baik dua kata yang akan menjadi penentu sikap Anda seperti apa ke depannya. Kata tersebut tidak lain adalah "ikut"? atau "ikut-ikutan"? Pilihan hanya satu, pilihan ada di tangan Anda, pilihlah yang terbaik menurut akal sehat.

Bagi saya pribadi, mengungkapkan sebuah perasaan tidak perlu menunggu "hari" yang tepat, namun "saat" yang tepat. Sangat monoton rasanya jika perasaan kita ditentukan oleh waktu, katakanlah itu "hari valentine". Perasaan hanya butuh "perasaan", jika dirasa momennya sudah tepat, tak perlu menunggu hari istimewa untuk mengungkapkannya. Hal itu malah akan menurunkan kualitas perasaan jika ditunda untuk menyatakannya. Percayalah!

Jumat, 20 Januari 2012

cintaku di karate (2)

Akan seperti apa hubungan kami selanjutnya, mungkinkah jika saya mencoba menyatakan perasaan yang sebenarnya dia akan merespon/menyambut baik dengan perasaan yang sama? Saya semakin tidak sabar menanti hari latihan selanjutnya. Semoga sesuai yang diharapkan. Semoga cintaku di karate (hobbyku) semakin meningkat serta semoga cintaku di karate (dambaan hatiku) adalah 'dia' yang selama ini selalu terpikirkan. Amin

Petikan kata-kata di atas merupakan penggalan kisah/cerita dari catatanku sebelumnya "cintaku di karate" (jilid 1). Hari ini, 12 Februari 2012 kembali terpanggil hati ini untuk memulai sebuah catatan baru yang inti dari ceritanya sama persis dengan catatan sebelumnya, namun dalam keadaan yang jauh berbeda.


Senang rasanya ketika mendapat kesempatan untuk melanjutkan cerita/kisah yang saya alami dan menorehkannya dalam sebuah catatan. Se-senang hati ini ketika membayangkan kembali kebersamaan malam itu dengannya. Hangatnya kebersamaan dengannya malam itu selalu terkenang dalam pikiranku hingga saat ini, terlebih hati ini. Hmmm... begitu terasa.


Ujian penurunan kyu semester II/2011 adalah saat yang indah bersama teman-teman karate. Canda dan tawa melengkapi kebersamaan kami malam itu setelah mengikuti latihan sore itu (14-01-2012) untuk persiapan ujian besok. Duduk dan membentuk sebuah lingkaran di tengah lapangan tempat kami mendirikan tenda adalah awal kami memulai hiburan malam itu. Dengan sebuah gelas plastik, kami pun mulai menyanyikan sebuah lagu yang durasinya cukup singkat sambil memindahkan gelas plastik itu dari teman yang satu kepada teman lainnya yang duduk di samping, begitu seterusnya hingga lagunya berakhir. Saat yang paling seru, mendebarkan sekaligus lucu yakni saat lagunya hampir selesai dinyanyikan. Betapa tidak, siapapun peserta yang memegang gelas plastik itu saat lagunya selesai dinyanyikan, maka dialah yang mendapat kesempatan untuk tampil dan bernyanyi di hadapan teman-teman lainnya. Heheee...lucu juga malam itu. Permainannya terbilang sederhana namun cukup mencairkan suasana malam itu yang terkesan  kaku.


Jagung bakar buatan adik-adik peserta ujian melengkapi kebersamaan malam itu sekaligus menghangatkan suasana dingin saat larut dalam canda. Tanpa terasa waktu kian berlalu, permainan pun kami akhiri dengan melanjutkan untuk bernyanyi bersama dengan iringan gitar. Berada di tengah-tengah mereka (peserta ujian) yang masih duduk di bangku sekolah membuat saya merasa seperti anak sekolahan malam itu. Hahaha...., senang rasanya menjalani waktu dengan mereka tanpa ada batasan antara seorang pelatih dan muridnya. Kami betul-betul menyatu saat itu.


Malam mulai larut, mengharuskan kami mengakhiri kegiatan malam itu untuk kemudaian beristirahat. Belum puas rasanya, namun harus diakhiri. Hal lain yang membuat saya merasa belum puas adalah karena belum adanya kesempatan untuk bercerita dengan “dia”. Hmmmm..., who is “dia”? Dia, yaa..dia.., bukan yang lain! hehe..


Keinginan untuk bercerita berdua (empat mata) dengan “dia” pun terpenuhi sewaktu teman yang lain mulai beristirahat. Kesempatan bercerita selama beberapa menit saya manfaatkan sebaik mungkin bersamanya. Duh.., senangnya malam itu. Kami duduk begitu dekat, bercerita banyak tentang hal-hal yang kami alami sejak pertemuan di tempat latihan hingga detik ini. Semua berubah derastis malam itu, mulai dari debar jantung yang semakin meninggi, helaan nafas yang tidak beraturan, serta ungkapan kata-kataku yang terkadang sulit dalam penyampaian meski sudah terpikirkan dengan matang, menjadi pelengkap terciptanya suasana yang indah malam itu untuk dikenang.


Tidak ada lagi hambatan/batasan bagi saya malam itu untuk mulai mengutarakan seluruh isi hati saya selama ini dan hal-hal yang terpikirkan tentang “dia”. Kembali, untuk kesekian kalinya saya merasa simpati dan jatuh hati terhadap anak murid saya sendiri. Hmmm..., malu rasanya saat harus menulis catatan ini, tapi tak apalah. Toh inilah yang saya alami, ini yang saya rasakan, ini caraku untuk menghargai sebuah perjalanan/proses setiap bagian hidupku, karena inilah kehidupanku. Aku merasa hidup dan bahagia ketika hal-hal yang terpikirkan dan terasa dalam hati, bisa saya utarakan dengan baik sehingga terciptalah sebuah cerita indah dalam hidupku. It’s Me.


Obrolan ringan seputar karate mengawalai percakapan kami malam itu sebelum akhirnya saya memberanikan diri untuk mengatakannya. “Dia” pun menyambut baik maksud saya untuk mengajaknya bercerita berdua tanpa ada rasa khawatir teman-temannya curiga dengan kedekatan kami. Padahal malam itu ada beberapa temannya yang secara tidak sengaja melihat kami berdua duduk dan bercerita. Termasuk ibu. Hehee...


Seolah semua sudah diatur, sayapun memberanikan diri untuk mulai mengatakan isi hatiku kepadanya step by step. Meski semua sudah terpikirkan dengan matang dan terasa di dalam  hati namun hambatan dalam penyampaian masih saja ada. Keberanianku timbul karena adanya semangat/hasrat saat berada di dekatnya, sekaligus rasa takut atau lebih tepatnya deg-deg-an yang juga timbul karena perasaan yang grogi/nervous saat berada di dekatnya. Dua hal yang tak terpisahkan saat berada di dekatnya malam itu, menyampaikan semua isi hati ini dengan pola yang tidak tetap yakni naik turun. Terkadang saya berani dan lancar dalam berkata, namun disaat yang bersamaan keberanianku menciut saat grogi/nervous menghampiri malam itu. Hmmmm....., sungguh pengalaman indah untuk dikenang.


Melegakan rasanya setelah mengatakan apa yang seharusnya saya katakan. Semua terkatakan malam itu. Tak kurang dan tak lebih, semua sudah kusampaikan padanya. Kebahagiaan saya bertambah karena dia bersedia mendengar semua ucapan saya. Iapun  balas mengomentari semua perasaan saya malam itu dengan bahasa sederhana yang saya suka darinya. Meski hasilnya belum sesuai dengan yang saya harapkan malam itu, namun setidaknya dari tatapan matanya saya mampu membaca maksud dari hatinya yang sebenarnya. Hanya saja mungkin karena waktunya belum tepat sehingga dia malu untuk berterus terang. Saya yakin suatu saat nanti dia akan menyadarinya dan mengatakan apa yang juga dia rasakan selama ini. InsyaAllah, itu pasti!

Sabtu, 07 Januari 2012

hukum di atas sandal


Beberapa hari terakhir suasana pemberitaan di berbagai media khususnya di televisi diramaikan dengan berita tentang seorang anak berinisial AAL yang diancam hukuman lima (5) tahun penjara atas dakwaan mencuri sepasang sandal milik seorang anggota Brimob di Polda Sulteng. Berawal dari hilangnya sandal seorang anggota Brimob berpangkat Briptu yang menurutnya dicuri oleh anak berinisial AAL sehingga berujung pada persidangan di pengadilan dengan ancaman tuntutan penjara selama lima (5) tahun lamanya. Meski pada akhirnya, hakim memutus bebas terdakwa karena tidak terbukti melakukan pencurian. Namun keadaan ini tentu menyisakan trauma yang dalam bagi AAL saat kembali ke keluarga dan masyarakat. Betapa tidak, saat menjalani interogasi AAL sempat mendapat perlakukan kasar oleh polisi yang memeriksanya. AAL mengaku dipukuli oleh Briptu tersebut saat dimintai keterangan. Hal yang tidak seharusnya tidak perlu terjadi mengingat si pelaku adalah anak di bawah umur.


Keputusan hakim yang memvonis bebas AAL melahirkan berbagai opini, apakah benar keputusan itu karena keyakinannya atau mungkin karena adanya desakan dari publik yang berupa dukungan terhadap AAL lewat aksi solidaritas seribu sandal untuk para penegak hukum sebagai ganti sepasang sandal anggota polisi yang hilang. Namun terlepas dari itu semua, sudah menjadi kewajiban bagi para penegak hukum untuk menjadikan kasus ini sebagai pelajaran berharga di masa depan. Dan bukan hanya kasus "kecil" ini saja yang mengemuka dan menjadi keprihatinan masyarakat terhadap kredibilitas penegak hukum saat ini, melainkan banyak juga kasus-kasus lainnya yang sifatnya sepele (tidak berlebihan kiranya jika saya katakan demikian) dan berujung pada proses pengadilan. Sebut saja kasus yang terjadi di Purwokerto, Jawa Barat menimpa seorang warga bernama Minah yang kedapatan mencuri buah kakao dan divonis satu bulan 15 hari, sementara itu di Kediri, Jawa Timur Basar Rusyanto dan Kholil duduk di kursi pesakitan karena mencuri semangka di kebun tetangganya dan divonis penjara selama 15 hari, dan di Batang, Jawa Tengah empat orang warga dituduh mencuri 14 kilogram kapuk sisa hasil panen sebuah perusahaan swasta dan masing-masing divonis penjara selama 24 hari.  Begitu banyak kasus-kasus yang terjadi sebelum kasus yang menimpa AAL  dan hal ini tentu berdampak pada menipis/menurunnya harapan rakyat terhadap hukum dan penegak hukum karena mereka merasa tercederai sudah rasa keadilan yang dirasakan.

Kita tidak menganut sistem hukum seperti di Jerman, di mana setiap pelanggaran atau kejahatan apa saja yang telah tertulis dalam undang-undang kalau dilanggar harus diajukan ke pengadilan. Di Indonesia tidak demikian, asas opportunitas memberi kebijakan kepada polisi dan jaksa untuk bertindak secara bijaksana, bukan dengan menjadi hamba hukum yang matanya ditutup untuk langsung membawa setiap persoalan ke pengadilan. Pasti penjara kita tidak cukup jika hal itu yang diterapkan. Saya melihat penegak hukum sepertinya hebat alias jago kalau menghadapai rakyat kecil yang bermasalah dengan hukum. Berbeda ketika menghadapi para pejabat-pejabat korup. Mereka cenderung melunak. 

Saya sebenarnya setuju dengan sebuah gagasan dari Kementerian Sosial tentang "penghapusan" penjara bagi anak. Maksud yang dapat saya pahami tentang "penghapusan" penjara adalah perubahan total dari tempat tinggal anak yang bermasalah dengan hukum menjadi sebuah panti sosial atau tempat rehabilitasi bagi anak yang bermasalah dengan hukum. Mulai dari konstruksi bangunan yang tidak boleh ada jeruji besinya seperti di penjara, hingga sistem kegiatannya berupa kegiatan keseharian seperti saat berada di rumah, misalnya mencuci, mengepel dll, serta kegiatan-kegiatan sosial lainnya yang mendidik agar kelak anak  yang berurusan dengan hukum menjadi anak yang berguna saat keluar dari tempat itu. Dan yang tak kalah pentingnya, pekerja sosial dan psikolog harus selalu ada setiap hari untuk anak-anak, sebagai tempat bagi mereka mencurahkan perasaan. Menurut saya, kasus peradilan tetap berjalan seperti biasanya sesuai dengan UU Pengadilan Anak. Yang berbeda hanyalah pada saat pelaksanaan pemidanaannya, di mana anak tidak dijebloskan ke dalam penjara mengingat usia mereka yang masih produktif dan sangat labil untuk terpengaruh kondisi psikologinya dengan nuansa penjara yang begitu mencekam bagi mereka.

Penghapusan penjara anak bukanlah pembenaran atas tindakan kriminal yang dilakukan oleh anak. Melainkan upaya memahami kondisi anak. Ini bukan berarti pembenaran terhadap apa yang dilakukan anak. Tapi kita memahami mengapa anak seperti itu. Dan pasti ada faktor dan sebab yang membuat anak melanggar hukum. Itu makanya ABH (Anak Bermasalah Hukum) harus dipandang sebagai korban. Ya.., korban dari situasi, korban dari lingkungan, korban dari kurang bertanggungjawabnya orang tua dalam mendidik anak pada masa tumbuh kembang.



Belum diketahui kapan penjara untuk anak dihapuskan. Sembari menunggu harapan itu terwujud, anak-anak yang berurusan dengan hukum harus mendapatkan perhatian yang serius. Hak-hak dasarnya sebagai anak-anak harus dipenuhi. Sehingga ketika keluar penjara kelak, kondisinya akan jauh lebih baik dan bisa menggapai cita-cita mereka, layaknya anak-anak lainnya. 

Kamis, 05 Januari 2012

Hangatnya Kebersamaan di Permandian Air Panas Lejja


LIBUR pergantian tahun biasanya diisi kunjungan ke objek wisata yang bisa merilekskan tubuh dan pikiran. Bila liburan awal tahun kali ini masih bingung kemana objek wisata yang akan dituju, permandian alam Lejja bisa menjadi alternatif.

Permandian air panas ini cukup populer dan menjadi wisata andalan Kabupaten Soppeng. Seperti air hangat yang dapat dinikmati di kolam permandian, Lejja menawarkan kehangatan di tengah-tengah alam pegunungan yang indah.

Udara sejuk dengan panorama alam yang indah langsung menyapa pengunjung saat memasuki kawasan wisata Lejja. Permandian alam ini memang berada dalam kawasan hutan lindung yang berbukit dan berudara sejuk dan nyaman. 

Lejja terletak di Desa Bulue, Kecamatan Marioriawa, sekitar 49 kilometer sebelah utara kota Watangsoppeng. Biasanya perjalanan ditempuh dalam tempo sekitar empat puluh lima menit.

Pengunjung yang tidak memiliki kendaraan pribadi bisa memanfaatkan kendaraan umum yang setiap saat berangkat Desa Bulue. Kembali dari Lejja bisa membeli souvenir berupa kerajinan tradisional.

Beragam aktivitas bisa dilakukan di objek wisata Lejja. Berendam di kolam permandian air panas bersuhu 60 derajat celcius dengan kadar belerang 1,5 persen paling banyak diminati pengunjung. 

Warga setempat meyakini berbagai macam penyakit bisa disembuhkan setelah berendam di kolam air panas seperti gatal-gatal dan rematik. Aktivitas seperti ini sering dilakukan pengunjung dari luar Soppeng, bahkan wisatawan mancanegara juga menyambangi Lejja.

Banyak fasilitas pendukung yang membuat wisata ke Lejja menjadi semakin menyenangkan. Vila atau tempat penginapan lainnya banyak tersedia di sekitar objek wisata. 

Sarana dan prasarana sudah tersedia seperti air bersih, listrik, areal parkir, lapangan tenis, baruga wisata untuk menggelar pertemuan dengan daya tampung hingga 300 orang.

Kemasyhuran permandian air panas Lejja, sudah diakui pengunjung dari luar daerah. Tak heran setiap tahunnya angka kunjungan wisatawan meningkat.

Sambil menikmati keindahan alam Lejja, pengunjung juga dapat duduk-duduk sembari menikmati makanan yang tersedia di warung yang berderet rapi disepanjang jalan masuk Lejja.

Singkat cerita, bagi Anda yang sedang bingung untuk menentukan ingin liburan awal tahun di mana? Sebaiknya Anda ke Lejja.

Kamis, 22 Desember 2011

Sebuah Harapan di Hari Ibu


Hari Ibu yang diperingati setiap tahunnya pada 22 Desember merupakan momentum untuk mengingat dan meneguhkan kontribusi gerakan kaum perempuan dalam menyiapkan Indonesia sebagai negara bangsa yang bebas dari kolonialisme, berdaulat, adil dan makmur. Namun tak kalah pentingnya, peringatan Hari Ibu ini bukan hanya sekedar seremonial, tetapi sebagai momen dalam rangka membebaskan perempuan dari berbagai bentuk kekerasan.
Hari Ibu atau Mom Day bukan semata-mata memperingati jasa Ibu yang memang memiliki peran penting dalam kehidupan domestik kita bersama. Untuk konteks sekarang ini, menurut saya adalah bagaimana memberikan penghargaan terhadap kaum Ibu dengan membebaskan ia dari berbagai bentuk kekerasan, baik kekerasan fisik, psikis, ekonomi dan seksual.
Kasus yang kini marak dan peristiwanya terus berulang adalah perkosaan dalam angkutan kota. Hal ini semestinya menjadi perhatian penting pemerintah, terutama pemenuhan keadilan dan pemulihan bagi perempuan korban dan memberi sangsi hukum yang setimpal bagi para pelakunya.
Jika kekerasan terhadap perempuan masih sangat menguat di sekitar kita, maka pemberdayaan terhadap perempuan akan sangat sulit dilakukan. Sebab prasyarat perempuan untuk berdaya adalah membebaskannya dari kekerasan dalam bentuk apapun.
Hal ini harusnya menjadi perhatian kita bersama khususnya pemerintah yang mempunyai kompetensi/kewenangan dalam hal perlindungan hukum yang pasti bagi kaum perempuan. Butuh kerjasama yang erat dansaling mendukung antara pemerintah, masyarakat pada umumnya dan perempuan itu sendiri. Perempuan itu sendiri diharapkan bisa menjadi pemeran utama dalam hal pemberdayaan kaummnya, sedangkan pemerintah dan masyarakat umum adalah pemeran pembantu namun penting. Kenapa saya mengatakan demikian, tidak lain karena saya melihat kondisi kekinian di mana umumnya perempuan itu sendirilah yang terkadang berperilaku kurang baik dalam kesehariannya yang dia sendiri tidak menyadarinya. Misalnya dengan berpenampilan dan berpakaian yang super mewah dan minim di tempat umum, sehingga tanpa disadari secara tidak langsung hal itulah yang mengundang terjadinya tindak kriminal bagi kaum perempuan. Di samping para pelaku atau calon pelaku yang juga memang terkadang  pikirannya bejat alias kriminil.
Olehnya itu, kemauan dan konsistensi semua pihak sangat dibutuhkan untuk menjawab berbagai tantangan kedepan dan mewujudkan ekspektasi semua masyarakat berkaitan dengan pemberdayaan perempuan demi keberlangsungan hidup mereka yang sejahtera agar kelak kaum perempuan kita bisa menjadi seorang Ibu yang mandiri bagi penerus bangsa yang siap meneruskan tongkat estafet atau cita-cita negeri tercinta. Dan sangat berkenan kiranya jika kita memberi gelar kepahlawanan bagi seorang Ibu yang telah berjuang sekuat tenaga melahirkan (putra-putri bangsa).
Selamatkan Ibu, selamatkan perempuan, selamatkan bangsa, selamat hari Ibu.

Catatan Kecil di Hari Ibu

Tanpa ada maksud mengurangi atau mengabaikan rasa kasih sayang yang juga diberikan oleh Etta (Ayah), saya sengaja menulis catatan kecil ini di hari Ibu untuk mengabadikan sejuta cinta kasih dari seorang Ibu kepada kami (anak-anaknya). Meski sebenarnya sudah terukir indah dalam hati dan pikiran ini tentang kasih Ibu, namun belum puas dan tak lengkap rasanya jika saya belum memuatnya dalam sebuah catatan. Juga sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada Ibunda tercinta yang selama ini menjadi sumber kehidupan bagi kami sekeluarga.

Sangat banyak kata yang dapat mendeskripsikan sosok seorang Ibu,. Akan tetapi, mengingat saya bukanlah seorang sastrawan yang mampu menciptakan kata-kata yang indah dan menarik. Juga saya ini bukanlah ahli puisi yang dengan mudah bisa menghasilkan sebuah puisi untuk seorang Ibu. Namun cukuplah bagi saya mengartikan sosok Ibu sebagai orang yang berhati lembut penuh perhatian. Ia adalah pejuang yang tangguh dalam keluarga. Ibu, adalah pemimpin, teladan, dan guru bagi kami yang melebihi arti sebenarnya  dari profesi seorang guru. Bagiku, Ibu adalah segalanya dalam hidup ini. Ia adalah malaikat yang diutus oleh Tuhan. She’s Everything.
Sebuah pepatah bugis mengatakan: Iyaro To Matoammu, Puang Alla Ta’ala Mallinomu..., jaji sompa madecengngi pajajiammu. Artinya, Kedua Orang Tuamu adalah wujud dari Tuhanmu di Dunia, jadi hormati dan perlakukan mereka sebaik mungkin.

Rasulullah SAW sendiri telah menempatkan derajat Ibu 3 kali lebih tinggi dari Ayah. Beliau berkata, orang yang harus dihormati adalah Ibumu, Ibumu, Ibumu, lalu Ayahmu. Bagi saya pribadi, Allah SWT telah mengutus Rasul sebagai teladan bagi Ummat Islam, sementara Ibu adalah perwakilan-Nya yang juga bisa dikatakan sebagai wujud nyata Allah SWT dalam hal kasih sayang-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Hal ini jelas senada dengan pepatah bugis tadi.
Selain itu, begitu pentingnya kehadiran Ibu dan manfaat yang diberikan oleh seorang Ibu terhadap anaknya, sehingga ada sebuah bait sajak yang mengatakan ‘aku tak butuh Tuhan, aku tak butuh guru, namun yang kubutuhkan hanya seorang  Ibu’.
Artinya, begitu mulia dan berharganya nilai kasih sayang dari seorang Ibu, sehingga posisinya tak tertandingi oleh siapapun. Karena, tanpa Ibu kita bukan siapa-siapa. Jadi wajar saja jika seorang ibu diibaratkan sebagai sumber kehidupan.

Meskipun masih banyak Ibu yang menelantarkan anaknya, namun  menurut saya sosok Ibu itu tidak akan tergantikan. Tak ada yang bisa menandingi keluhuran hatinya. Ketika ada seorang Ibu yang berani menelantarkan anaknya, itu bukan merupakan ekspresi dari hatinya. Namun bisa saja karena ada bisikan dari luar.
Dan yang perlu diingat, hati seorang Ibu seperti halusnya sutra, begitulah halusnya belaian kasih sayang seorang Ibu. Meski sepanjang kehidupannya senantiasa disertai dengan berbagai penderitaan khususnya saat membesarkan buah hati tercinta, hati ibu senantiasa lembut sepanjang masa. Dan hal itu tidak menurunkan kualitas kasih sayang seorang IBU.

Sangat pantas jika saya menyatakan bahwa hingga detik ini dan sampai kapanpun, kasih seorang Ibu belum ada yang terbalas dan tidak akan pernah ada seorang anak yang mampu membalasnya. Melainkan yang bisa kita lakukan sebagai anak yakni dengan membahagiakan Ibu kita. Itulah perwujudan rasa cinta seorang anak kepada Ibunya. Bukan membalas.

Saya teringat pesan dari seorang ulama saat masih kuliah dulu, ia mengatakan bahwa kehancuran suatu keluarga/bangsa itu sangat ditentukan oleh kondisi dan perilaku kaum perempuannya, jika perempuannya baik, maka baik pula keluarga/bangsa itu, tapi jika perempuannya ‘rusak’, maka rusak pula keluarga/bangsa itu. Pesan penting bagi kaum perempuan berkenaan dengan momen hari Ibu, hendaklah menjadi sosok peneduh dunia, dan sumber inspirasi di setiap langkah seorang anak. Karena memang sosok Ibu ini merupakan tempat berteduh di dunia, dan juga jadilah seorang Ibu yang menjadi sumber kehidupan orang banyak, bukan hanya dalam keluarga saja.
Terima Kasih Ibu..., Terima Kasih Ibu..., Terima Kasih Ibu..., Terima Kasih Ayah.
Selamat Hari Ibu

Rabu, 07 Desember 2011

Cintailah Mereka

Kadang manusia akan mengalami dan melaluinya, dan kadang manusia tak menerima dan merelakannya. Suatu saat kita, bisa mendapat cobaan itu. Coba berpikir dalam bila mendapat cobaan itu.
Olehnya itu, cintailah cinta mereka, sayangilah sayang mereka..., sebagai tanda ketulusan yg diinginkan mereka. Tertawalah lepas dengannya, bernyanyilah indah dengannya.
Kita sama, semua sama, yang tercantik dan sempurna. Dan yang terbaik.


Ada yang bilang, ketika mendengar atau menyaksikan secara langsung suatu peristiwa/kejadian atau apapun itu (positif) lalu kita merasa merinding, itu artinya bahwa kita bisa turut merasakan apa yang kita saksikan atau dengarkan itu. Begitulah yang kini tengah saya rasakan ketika mendengar dan menyaksikan video klip dari Band GIGI - Cintailah Mereka yang bertajuk tentang kepedulian terhadap mereka (anak yatim) yang hingga saat ini masih banyak sekali yang belum tersantuni. Sangat dalam makna dari lagu ini, sehingga berulang kali tangan ini menekan tombol play untuk memainkan kembali lagu ini. Mungkin bukan hanya saya yang merasa tersentuh dengan lirik lagu dari GIGI tersebut, melainkan Anda (sahabat-sahabat) yang juga memiliki hati nurani yang tulus untuk peduli dan memberi sebuah perhatian dengan saudara-saudari kita di luar sana yang mungkin kondisinya tidak sebahagia kita yang memiliki keluarga (orang tua) yang utuh. Yah, anak yatim piatu, itulah mereka. 

Hidup bersama-sama dalam satu tempat/asrama, melakukan aktifitas sehari-hari bersama teman-teman sesama anak yatim piatu lainnya, merupakan kebiasaan mereka. Jauh dari kasih sayang orang tua kandung, jauh dari lingkungan keluarga yang sangat membahagiakan seperti yang kita rasakan. Semua itu adalah cobaan yang harus mereka tanggung. Melihat keadaan mereka yang kehilangan orang tua, akan sulit rasanya bagi saya untuk menjalani seperti yang mereka rasakan. Tapi meringankan beban mereka dengan sebuah kepedulian tentu suatu perbuatan yang mulia.


Tidak banyak yang diharapkan oleh mereka, kecuali perhatian yang tidak mereka miliki seperti yang kita miliki. Apapun itu, sekecil apapun perhatian yang diberikan, akan sangat bermanfaat dan membahagiakan  mereka.

Seperti yang dikutip MediaIndonesia.com (06/12/2011), selasa kemarin merupakan Hari Anak Yatim Nasional yang bertepatan dengan 10 Muharram 1433 H. Puluhan anak-anak melakukan aksi memperingati Hari Anak Yatim Nasional di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Selasa (6/12/2011). Dalam aksinya, mereka meminta kepada pemerintah untuk menetapkan 10 Muharrom sebagai Hari Anak Yatim secara formal, yang setidaknya telah mengurangi beban kewajiban pemerintah yang diamantkan oleh Undang-Undang Dasar 1945 pasal 34 yang berbunyi fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.

Dari berita tersebut, dapat kita ketahui bahwa sebenarnya mereka tidak meminta banyak dari pemerintah kecuali sebuah perhatian. Melalui penetapan 10 Muharrom sebagai Hari Anak Yatim Nasional, mereka mencoba mengingatkan pemerintah tentang janji yang mereka buat dalam sebuah UUD 1945. Dengan begitu, diharapkan pemerintah lebih meningkatkan concern terhadap mereka (anak yatim).

Memang ironi dan menyedihkan ketika melihat realita yang terjadi saat ini. Masih banyak sekali anak yatim di luar sana yang belum atau bahkan tidak pernah tersantuni. Tidak salah jika ada anggapan bahwa "anak terlantar itu dipelihara oleh negara, makanya hampir setiap sudut kota selalu kita temukan anak terlantar usia sekolah yang bertarung menjalani kehidupan mereka di persimpangan jalan dengan bekerja". Hal yang seharusnya tidak perlu terjadi jika pemerintah lebih memperhatikan perhatian mereka terhadap anak-anak terlantar tersebut. Itu baru yang terjadi di kota besar yang sangat sering kita lihat sehari-hari dan sangat mungkin untuk disantuni, tapi bagaimana dengan mereka yang keberadaannya (di pelosok negeri) jauh dari keadaan yang memungkinkan untuk mendapat santunan?

Ketimbang menunggu perhatian dari pemerintah yang entah kapan dan entah kenapa tidak fokus, sangat baik dan wajib bagi kita (khususnya saya) untuk segera turut serta dengan sebuah tindakan  real dalam memberi sebuah perhatian bagi mereka. Banyak cara yang bisa kita lakukan dan tentu sahabat semua tahu. Kembali lagi ke persoalan hati nurani. Tumbuhkan kepedulian kita kepada mereka. Karena kita semua sama.

Saatnya mengakhiri perhatian yang tertuang dalam catatan dari seseorang yang prihatin dengan kondisi saudara-saudari kita yang menjalani kehidupan mereka sebagai yatim piatu. Memulai dengan tindakan akan lebih baik. Semoga Anda yang membaca note ini juga merasakan hal yang sama dan tergerak hati dan fisiknya untuk peduli. Saya yakin itu!