Hari berganti, usia pun bertambah atau malah sebaliknya berkurang. Semua tergantung interpretasi masing-masing dalam mengartikan pergantian usia yang dialami. Bagi saya pribadi, pergantian usia merupakan pemberitahuan atau mungkin sebuah peringatan (warning) tentang masa hidup yang diberikan oleh Sang Pemilik Kehidupan (ALLAH SWT) bahwa kita harus segera me-refresh segala hal dalam hidup ini yang terangkai selama perjalanan hidup kita untuk kemudian menyusun strategi dalam menentukan langkah ke depannya demi sebuah progress kehidupan yang jauh lebih baik. Bukan hanya sekedar celebrate atau semacamnya yang bersifat duniawi. Lebih dari itu setiap saat sebenarnya kita dituntut untuk segera meninggalkan perilaku-perilaku negatif yang mendominasi atau bahkan menjadi pengisi kehidupan kita selama ini.
Perjalanan hidup kian terasa setelah usia kita terus bertambah. Dari yang tadinya belasan kini menjadi puluhan, setengah abad dan seterusnya. Meningkatnya usia seseorang seyogyanya diikuti pula dengan bertingkatnya kesadaran akan arti kehidupan yang tidak hanya sekedar lahir, menjadi remaja/dewasa, lalu menikah dan memiliki anak/cucu dan seterusnya. Siapapun Anda, tentu tahu arti kehidupan dan mempunyai cara tersendiri untuk menjalaninya. Namun, dominasi kebaikan adalah cara paling bijak menjalani kehidupan yang sangat berharga ini.
Tidak ada maksud untuk menasehati dalam hal penulisan catatan ini. Hanya sekedar reminder untuk diri sendiri, demikian pula untuk Anda yang kebetulan membaca dan kembali teingat dengan usia masing-masing yang di satu sisi kian bertambah, tapi di sisi lain semakin berkurang. Sebagai orang yang beragama Islam, saya meyakini bahwa usia seorang manusia (ummat Muhammad) kemungkinan besar tidak melebihi usia dari Rasulnya yang hanya berusia 63 tahun. Kalaupun ada di antara kita yang usianya lebih dari usia Baginda Rasul, itu hanya bonus dari ALLAH SWT. Akan tetapi dengan usia lebih tersebut, sangat bijak rasanya jika dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk berbenah. Namun jangan menunggu bonus untuk berbenah. Mulailah dari yang kecil, mulailah dari diri sendiri, mulailah dari sekarang. InsyaAllah bisa! Semoga saya pun bisa.
Saya merasa sangat bahagia bisa sampai pada usia yang ke dua puluh empat di tahun ini. Banyak hal yang kini menjadi poin-poin penting dalam menyusun langkah ke depannya. Utamanya dalam hal agama. Pergantian usia hari ini sebenarnya sama saja dengan tahun sebelumnya. Namun yang membedakan tentu harus ada. Bukan dari usianya. Bukan dari perayaannya. Bukan pula dari berapa banyak ucapan dan hadiah yang kita terima. Tapi, semua menjadi beda berdasarkan upaya kita masing-masing untuk memulai suatu komitmen ke depannya dalam merangkai sebuah perjalanan hidup yang lebih baik. Saya teringat dengan ucapan seorang sastrawan bahwa, "tugas manusia sebenarnya bukan menaklukkan waktu, tapi menciptakan sebuah kenangan indah yang akan diucap/dikenang dengan manis di masa yang akan datang". Jadi, tugas kita sebenarnya bukan menaklukkan waktu, melainkan menjalani waktu dengan menghasilkan sebuah karya-karya cemerlang yang membahagiakan diri, keluarga, dan sesama manusia yang kemudian menjadi sebuah sejarah kehidupan yang dapat senantiasa kita kenang di masa yang akan datang. Dengan begitu kebahagiaan dan arti kehidupan yang sebenarnya telah kita temukan. Bahkan sangat dekat.
Tidak perlu berlama-lama lagi. Sudah saatnya saya/kita untuk segera memulai. Dimulai dengan mengakhiri catatan ini dan melakukan tindakan nyata.
Selamat berjuang sahabat-sahabatku, semoga kita bisa menciptakan yang terbaik. Terima kasih atas do'a dan ucapan ulang tahunnya. Semoga segera di ijabah. Amin
HIDUP INI TIDAK BOLEH SEDERHANA. Hidup ini harus HEBAT, KUAT, LUAS, BESAR, dan BERMANFAAT. Yang sederhana adalah SIKAPNYA
Selasa, 29 November 2011
Sabtu, 08 Oktober 2011
hilangnya satu nafas hidupku
in
memories...
Kehilangan
sosok seorang Ayah dalam kehidupanku bagaikan hilangnya satu nafas kehidupan
yang selama ini menjadi penyemangat hidupku. Bersama Ibu, beliau telah mendidik
kami dengan penuh kesabaran dan kasih sayang sejak kecil hingga kami (anak-anaknya)
memasuki usia dewasa. Sungguh suatu pemberian yang sangat bernilai dalam
kehidupan kami yang tidak akan pernah bisa terbalas kebaikan mereka meski
dengan nyawa sekalipun. Begitu banyak ilmu dan nilai-nilai kehidupan yang beliau
ajarkan kepada kami (anak-anaknya). Mulai dari pemahaman tentang agama,
adat dan segala hal yang sangat kami butuhkan dalam kehidupan ini.
Masih
segar dalam ingatan saat terakhir beliau bersama kami. Pagi itu di RSU Ajapange
Soppeng, Etta (begitu kami memanggilnya) menjalani masa kritisnya
bersama Ibu dan kakak kedua saya. Sementara saya dan kakak yang pertama sedang
dalam perjalanan dari Makassar menuju Soppeng. Hampir setiap 15 menit selama
kami dalam perjalanan, kami selalu meminta dan menerima informasi dari Ibu dan
saudara yang sedang bersama Etta di RS tentang kondisi terkini Etta. Sama
sekali tidak ada firasat bahwa pada hari itu beliau akan pergi untuk
selama-lamanya. Dan entah kenapa saat mengemudiakan motor, saya melaju dengan
kecepatan tinggi yang beda dari biasanya dan tiba di Soppeng kurang lebih satu
jam lebih cepat. Sebenarnya, ini adalah pertanda bahwa tidak lama lagi Etta
akan pergi meninggalkan kami yang sama sekali tidak kami sadari. Pukul 09.10 wita (kurang
lebih) kami tiba di RS (UGD). Dalam ruangan itu, saya menemui Etta sedang terbaring lemah dengan nafas yang tersengal-sengal. Tatapan matanya yang sayu, seolah ingin
menyampaikan sebuah pesan sebelum kepergiannya untuk selama-lamanya. Badannya
yang kurus kering seolah berkata kepada kami anak-anaknya bahwa kalian semua
sudah dewasa dan harus berusaha sendiri untuk mandiri menjalani kehidupan
masing-masing. Sesekali batuk menyiksa pernapasannya bagai sebuah
pemberitahuan bahwa hidupnya tak lama lagi. Kamipun bergantian memeluknya
sambil membantu beliau untuk melafadzkan ayat-ayat suci Al-Qur'an dan
bersyahadat saat nafasnya tersengal-sengal. Hanya kurang lebih lima belas menit
saja kebersamaan kami di ruang UGD (Unit Gawat Darurat), serangan
jantung membuat Etta pergi selama-lamanya meninggalkan kami. Tangispun pecah
dan tak terbendung lagi di ruangan itu. Tapi, terlepas dari semua itu, saya
merasa bersyukur sekali dapat menatap mata Etta yang sayu sesaat sebelum beliau
meninggal, mengingat perjalanan yang kami tempuh hampir tidak memungkinkan lagi
untuk sampai di RS saat Etta masih hidup. Alhamdulillah ALLAH berkehendak untuk
mempertemukan kami sekeluarga di saat-saat terakhir kehidupan Etta.
Sakit
stroke yang ia derita sejak awal bulan Mei 2010 lalu mengharuskannya menjalani
masa pensiunnya sebagai pendidik (guru) dengan penuh penderitaan. Namun
dengan kesabaran, beliau bisa menjalani hari-harinya dengan kelumpuhan pada
tubuhnya di bagian kiri hingga ajal menjemputnya. Satu kesyukuran bagi saya
karena bisa berada di tengah-tengah kedua orang tua saat kondisi mereka sudah
lanjut usia. Beberapa foto dan rekaman saat beliau masih hidup khususnya saat
Etta sakit, kini menjadi teman dikala kerinduan melanda kami. Dengan foto dan video
tersebut, kami merasa sangat dekat sekali dengan beliau. Menemani dan merawat
Etta selama masa sakitnya adalah saat penuh suka dan duka yang kini selalu
dikenang oleh kami sekeluarga tatkala rasa rindu kepada Etta datang
menghampiri.
Kini
setahun sudah kepergian beliau dari keluarga kecil kami, Jum'at 08 Oktober 2010
- Sabtu 08 Oktober 2011. Terkadang rasa tidak percaya bahwa Etta telah
meninggal hadir di pikiranku sehingga membuatku berpikir bahwa jangan-jangan
kita semua salah, Etta mungkin masih hidup saat dikubur. Tapi kemudian saya
sadar bahwa pemikiran ini hadir hanya karena didasari proses pembelajaran
tentang keikhlasan menerima kenyataan yang belumlah sempurna. Ya ALLAH.., kami
ikhlas atas kepergian Etta dan senantiasa teriring do'a dari kami (keluarga kecilnya)
untuk keselamatan beliau di alam kubur sana dalam penantiannya menanti hari
akhir tiba. Semoga diberi ketenangan, cahaya terang dan dilapangkan kuburnya,
diberi keselamatan di jembatan shirotal mustaqim, serta semoga Surga Firdaus-Nya adalah tempatnya kelak..., Amiin Allahumma Amiin.
Meski sudah setahun, kami sekeluarga masih dan akan selalu menganggap beliau
hidup. Baik di dalam hati kami maupun di tengah-tengah kami dalam setiap momen
kehidupan. Kehilangan sosok seorang Ayah yang sabar, dan menjadi panutan bagi
keluarga bagaikan kehilangan satu nafas kehidupan dalam hidupku.
ETTA...,
Saya
merindukan nasehat dan pandangan hidup Etta. Saya merindukan suara, canda
dan tawa dari Etta. Saya merindukan untuk berkebun di tanah milik kita Etta.
Saya merindukan untuk dibangunkan menunaikan shalat subuh. Saya merindukan untuk
jalan-jalan pagi, shalat, makan, dan tidur bersama Etta. Saya rindu untuk
mengantar Etta ke sekolah mengajar murid-murid Etta. Saya rindu melihat Etta menjalani setiap hari bersama Ibu.
Saya
merindukanmu ETTA. Istirahatlah dengan tenang, kami selalu rindu dan
selalu berdo'a untuk keselamatan Etta.
Selamat
Jalan Etta...
Sabtu, 01 Oktober 2011
cintaku di karate
Malam minggu
sendiri kelabu. Pendapat itu sepertinya tidak berlaku dengan saya
yang saat kesendirian menjadi temanku membuat perasaan ini begitu menyenangkan
dengan hadirnya pemikiran untuk menorehkan sebuah catatan dalam blog ini tentang
pengalaman cinta beberapa tahun dan hari lalu.
Jum'at 30
september, saya kembali dengan aktifitas yang tertunda selama dua bulan lamanya
sejak ramadhan kemarin. Aktifitas olahraga yang sudah menjadi hobby sejak SMP
kemarin (beberapa tahun silam). KARATE. Itulah yang menjadi kegemaranku
yang terbangun sejak duduk dibangku SMP kemarin. Hingga saat ini saya masih
sangat mencintai olahraga ini. Di saat beberapa teman lainnya yang dulu juga
pernah menjadi teman dalam olahraga ini lebih sibuk dengan rutinitas yang baru
dan lebih menyenangkan (menurut versi mereka). Entah kenapa dengan olahraga
ini. Padahal menurut beberapa orang yang pernah ikut, olahraga ini membosankan.
Gerakannya itu melulu..., tidak ada variasi. Kami bosan! (seperti itulah
pendapat dari teman-teman kebanyakan).
Pendapat
tentang "gerakannya itu melulu" sengaja saya garis bawahi karena
memang benar demikian. Namun, perlu diketahui juga teman-teman bahwa selain
waktu yang tidak mungkin berulang, segala sesuatu tentu akan dilakukan
berulang-ulang. Untuk memahami dan menguasai, tentu harus dilakukan
berulang-ulang biar lebih mengerti. Dan semua olahraga tentu seperti itu. Coba
saja Anda pelajari semua jenis olahraga, tentu gerakannya itu-itu saja, dan
memang seperti itulah realitanya. Jadi, dapat saya simpulkan bahwa pendapat
teman-teman yang merasa jenuh dengan Karate adalah pendapat yang keliru dan
tidak berdasar sama sekali. Semata-mata karena jenuh, sehingga teman-teman
memutuskan berhenti alias kegemaran Anda bukan di karate melainkan dalam bidang
olahraga yang lain mungkin.
Di situlah
letak perbedaan kita teman-teman. Kecintaan dengan sebuah rutinitas/kegiatan
membuat kita tetap bertahan di tengah kejenuhan orang lain yang bisa saja
mempengaruhi fokus kita. Cinta (hobby) itulah yang saya jadikan prinsip
sehingga mengantarkan saya dalam kecintaan yang sama, bahkan lebih terhadap
olahraga karate sejauh ini. Karena cinta itu sendiri mengantar saya pada tujuan
utama saya saat masih sangat baru di olahraga ini yakni meraih sabuk hitam dan
menjadi seorang pelatih yang bisa dijadikan contoh.
Kecintaan itu
tentu berdasar. Layaknya mencintai seseorang (lawan jenis) tentu ada
sesuatu yang menarik sehingga kita merasa suka dengannya. Begitupun dengan
Karate, banyak hal yang bisa saya dapatkan dengan olahraga ini. Selain dari
tujuan utamanya sebagai ilmu untuk beladiri, keuntungan yang saya maksud itu
mulai dari kesehatan jasmani yang akan mengantar pada kekuatan jiwa, seperti
kata pepatah "men sana in corpore sano" (di dalam tubuh yang
sehat terdapat jiwa yang kuat). Ya...kurang lebih seperti itulah
yang saya rasakan. Keuntungan lainnya, yakni kemampuan untuk belajar menjadi
seorang pemimpin seperti yang saya alami beberapa tahun terakhir. Yaa..,
sebagai pelatih (Simpay) saya merasakan sekali bagaimana melawan rasa
tidak percaya diri menghadapi orang banyak sekaligus menjadi contoh. Dan Alhamdulillah,
saya bisa. Selain itu, dalam hal pergaulan. Karate membuat saya
mengenal banyak teman yang sebelumnya kami tidak pernah dipertemukan dalam
dunia pendidikan formal atau dalam kegiatan lainnya. Beberapa teman dan pribadi
saya kenal di karate, mulai dari mereka yang benar-benar suka dengan olahraga
ini hingga mereka yang hanya sekedar ikut-ikutan dengan temannya yang entah
akan berlanjut atau tidak nantinya.
Dengan menjadi
seorang pelatih, saya belajar menjadi seorang pemimpin meski dalam skala yang
masih terbilang kecil. Banyak hal yang saya pelajari dengan menjadi seorang
pelatih. Salah satunya adalah dalam hal kedisiplinan. Dalam hal apapun, seorang
pelatih tentu harus bisa menjadi contoh bagi yang dilatihnya. Apa yang
diinginkan untuk dimiliki oleh seorang murid tentu harus dimiliki dulu oleh
pelatih. Jika menginginkan muridnya disiplin, pelatih tentu harus lebih
disiplin lagi. Dan seterusnya. Intinya, segala hal yang ada dalam diri pelatih (Simpay)
sebisa mungkin harus ditampilkan yang terbaik untuk murid-muridnya agar ia bisa
menjadi teladan.
Sekedar
informasi bahwa mereka yang menjadi murid karate saya umumnya berasal dari
siswa SMA. Dan sebagai seorang pelatih saya sudah seringkali dihadapkan dengan
berbagai karakter murid yang berbeda-beda. Mulai dari mereka yang selalu
bercanda saat latihan hingga mereka yang serius pada saat latihan tapi tidak
mengerti sama sekali. Saya tidak menyalahkan mereka, karena menjadi tugas
seorang pelatih untuk selalu mencari cara baru dalam hal menyampaikan materi
kepada muridnya. Namun, selama beberapa tahun terakhir berstatus sebagai
pelatih yang membuat saya bingung dan terkadang sedikit mengganggu pikiran jika
terus mengingatnya yakni tentang pendapat seorang teman pelatih bahwa "jangan
sampai terlibat cinta lokasi dengan anak murid sendiri". Karena
menurutnya, jika terjadi hal demikian tentu akan mengganggu konsentrasi saat
melatih yang beresiko terjadinya diskriminasi dengan murid-murid lainnya.
Maksudnya begini, jika tadinya cara melatih kita tegas, perlahan tapi pasti
akan melemah. Misalnya ketika si murid yang menjadi pacar kita melakukan
pelanggaran dalam latihan, tentu tidak tega rasanya menghukumnya sehingga
hilanglah konsentrasi untuk bersikap tegas yang berakibat pada sifat pilih
kasih terhadap murid-muridnya.
Benar kata
teman. Namun, menjadi sebuah dilema yang saya rasakan sekarang karena saat ini
juga saya mulai jatuh cinta dengan seorang murid saya sendiri. Ini bukan kali
pertama sih sebenarnya. Dulu (tahun 2007), saya juga berada dalam
kondisi yang sama. Saat itu kami memang pacaran karena 'dia' sudah tidak begitu
aktif dengan karate, jadi saya merasa tidak ada beban saat melatih. Meski
tidak berlangsung lama, tapi saya pernah. Berbeda dengan yang sekarang, murid
yang menjadi dambaan hati masih aktif latihan dan terkesan sangat serius
mengikuti latihan karate saat saya melatih. Hmmm.....
Perasaan itu
semakin meningkat ketika Jum'at 30 September kemarin saya melihatnya sangat
cantik dengan balutan jilbabnya dan sebuah senyuman yang dilayangkan dari mulut
manisnya sepulang dari latihan. Hingga berlanjut dengan komunikasi yang saya
mulai melalui pesan singkat malam itu, dan juga pada saat saya menulis catatan
ini kami saling komunikasi dengan lancar dan semangatnya, se-semangat saya
menulis catatan panjang ini. Hehee... ^_^
Sosoknya yang
sederhana, lembut dan terkesan pendiam membuat saya tertarik untuk mengenalnya
lebih dekat. Dan satu hal yang menguatkan perasaanku (ketertarikan saya)
yakni karena wajahnya mirip dengan seorang gadis yang juga pernah menjadi
pasangan terbaikku. Perkenalan kami menjadi akrab ketika saya memberanikan diri
untuk meminta nomor HP-nya dalam sebuah kesempatan yang tentunya dengan sejuta
alasan. Padahal seharusnya murid-lah yang meminta nomor HP pelatihnya untuk
kelancaran latihan. Eh.., ini malah terbalik. Hihihi....(jadi malu sendiri).
Syukur Alhamdulillah, diapun merespon baik cara saya mendekatinya dengan balas
memberi perhatian kepada saya...., hmmm...bak gayung bersambut (istilah
orang seperti itu) ada harapanlah dari dia.
Akan seperti
apa hubungan kami selanjutnya, mungkinkah jika saya mencoba menyatakan perasaan
yang sebenarnya dia akan merespon/menyambut baik dengan perasaan yang sama?
Saya semakin tidak sabar menanti hari latihan selanjutnya. Semoga sesuai yang diharapkan. Semoga cintaku di karate (hobbyku)
semakin meningkat serta semoga cintaku di karate (dambaan hatiku) adalah
'dia' yang selama ini selalu terpikirkan. Amin
Selasa, 27 September 2011
kenapa orang miskin tetap misikin?
Jika kita
dilahirkan dalam keadaan miskin, sudah dapat dipastikan kita berasal dari orang tua yang miskin, tinggal di
perkampungan kumuh, bertetangga dengan orang miskin, dan kebanyakan saudara kita miskin. Karena miskin, kita tidak punya kesempatan sekolah. Kalaupun sekolah hanya SD atau paling banter SMP. Dengan
pendidikan yang rendah, apa yang bisa
kita lakukan? Akhirnya kita bekerja serabutan, apa adanya, asal bisa makan.
Keterampilan yang apa adanya ditambah dengan keadaan yang
terpaksa, akhirnya membuat kita mau saja menerima bayaran sesuai kerelaan atau
belas kasihan mereka yang butuh jasa kita.
Begitu banyak orang yang seperti itu, bekerja tidak setiap hari. Dengan uang yang pas-pasan,
makan sangat "diatur"; artinya pagi
makan, siang belum tentu, atau sebaliknya lebih banyak puasa atau makan seadanya. Asupan makanan jauh dari bergizi karena sekadar mengisi perut. Akibatnya mereka kurang gizi, lemah, dan sakit-sakitan. Kalau sakit tidak punya uang, akhirnya
banyak pula
yang mati muda tanpa pernah menikmati senangnya
kehidupan.
Ada puluhan juta orang miskin di negeri kita yang tercinta ini. Saudara kita yang kebetulan tidak mendapat kesempatan dan
mendapatkan ujian dengan menjadi orang susah. Allah memang menciptakan manusia, ada yang kaya untuk membantu yang miskin, dan ada yang miskin agar orang kaya bersyukur serta tergerak hatinya untuk membantu.
Kemiskinan menjadi terstruktur jika suatu negara membiarkan korupsi merajalela. Uang negara yang diperuntukan bagi rakyat miskin agar mereka sejahtera malah dimakan oleh pejabat untuk menyejahterakan dirinya sendiri. Banyak anggaran dipersiapkan
untuk membantu orang miskin yang berbentuk cash Bantuan Langsung Tunai
(BLT).
Ini cukup membantu jika langsung diterima oleh si miskin "tanpa
potongan". Pembagian beras miskin lewat lurah juga sangat membantu jika tidak
dijual ke pihak yang tidak berhak dengan harga yang lebih tinggi demi mendapat keuntungan. Rakyat yang terkena bencana atau tinggal
di daerah terpencil akan sangat terbantu jika dibangun akses jalan dan
fasilitas penunjang. Ini dimaksudkan agar masyarakat mampu mandiri dan menjual hasli buminya.
Sayangnya mutu jalan dan infrastruktur dikorupsi sehingga sering
sekali jalan
baru dibangun sudah rusak.
Kenapa ada manusia yang tega memakan manusia lainnya? Mereka memenuhi perut sendiri dan perut anak istrinya dengan uang haram? Mereka membuat diri mereka kaya, tapi membuat orang lain semakin miskin.
Banyak contoh di mana pejabat yang meninjau daerah bencana malah merepotkan. Apalagi jika ia adalah orang penting dari pusat. Anggaran
malah habis untuk mempersiapakan kedatangannya. Aparat lokal dipersiapkan untuk menyambutnya dan berebut cari muka. Pejabatnya pun
mungkin akan marah jika yang menyambut kedatangannya hanya sedikit.
Belum lagi makanan yang akan dimakan si pejabat haruslah
istimewa dan banyak. Apalagi kalau si pejabat membawa rombongan ajudan , istri, dan keluarganya. Kok menengok bencana malahan menjadi merepotkan?
Bukankah sebaiknya berikan saja doa restu dan audit pengunaan
anggaran untuk menuntaskan kemiskinan dan menanggulangi bencana dengan
baik?
Untuk mendapatkan BLT, Raskin (Beras Miskin), Jamkesmin
(Jaminan Kesehatan Miskin), semuanya harus dicap miskin. Ada pengantar dari
kelurahan untuk menyatakan bahwa kita miskin. Kalau perlu diberi seragam atau cap yang membedakan kasta
kita adalah kasta miskin proletar yang berhak dapat bantuan. Di kelurahan sendiri juga rawan korupsi. Banyak kartu miskin malah diberikan kepada mereka yang tidak miskin. Apakah mereka
ini sudah sedemikian rusak mentalnya dan tidak punya harga diri sehingga tidak malu mengaku
miskin agar dapat bantuan dari pemerintah?
Kalau untuk mendapatkan BLT sontak pejabat desa, kecamatan, dan kabupaten berlomba-lomba mendata sebanyak mungkin
warganya yang miskin. Bahkan, banyak data yang
fiktif, ada data tapi orangnya sudah meninggal. Tapi, jika untuk laporan kemajuan desa, data yang dikeluarkan lain lagi. Pokoknya yang menggambarkan bagimana hebatnya aparat birokrat mengelola daerahnya. Dengan data dan laporan
yang bagus, akan keluar lagi kucuran dana untuk program lainnya. Rakyat masih
dijadikan alat untuk kepentingan para birokrat, belum diperlakukan dengan benar
untuk mengangkat derajatnya agar mereka sejahtera.
Kalau rakyat masih mau dijadikan komoditas politik
kepentingan para penguasa, dan mau dijadikan objek kemiskinan, mereka akan berkubang dalam lumpur
kemiskinan. Cara berpikirnya adalah
miskin, meminta-minta, dan mengggantungkan hidupnya pada orang lain. Jika birokrat masih menjadikan rakyat hanya
sebagai alat untuk mendapatkan tambahan anggaran yang peruntukannya tidak
sesuai dengan alokasi anggaran, akan terciptalah mental penguasa yang bobrok. Merekalah yang sebenarnya miskin. Ya.., miskin kasih sayang,
miskin moral, dan miskin belas
kasihan kepada`rakyat yang seharusnya mereka lindungi.
Kita harus memerangi keadaan seperti ini agar jangan
sampai orang miskin tetap miskin. Orang miskin
hanya dianggap sebagai angka; yang semakin
besar jumlahnya semakin banyak bantuan yang diberikan. Sudah saatnya kita semua
memperjuangkan suatu negara yang makmur,
merdeka, sejahtera, di mana rakyatnya mempunyai harga diri dan semangat untuk
mandiri. Masyarakat yang malu untuk meminta-minta dan berjuang untuk hidup secara bermartabat.
Sedih rasanya dalam bulan puasa kemarin misalnya,
kita melihat bagaimana rakyat miskin yang memang biasa tidak
makan malahan tidak puasa. Mereka di bulan suci tersebut malah berjejer di jalan, lengkap dengan anak-istri, bahkan membawa bayi sambil menadahkan tangannya merengek untuk meminta belas kasih para pengguna jalan. Manusia gerobak semakin
hari
semakin banyak saja berjejer di pinggir-pinggir jalan besar. Rasanya mustahil jika tidak ada yang
mengorganisir. Begitu banyak gerobak itu mungkin ada juragan gerobak yang
mengambil keuntungan dengan menyewakannya.
Seorang miskin mungkin menjadi putus asa dan tidak percaya
lagi kepada Allah. Mereka mencari kasih sayang Allah sepanjang hidupnya, namun belum menemukannya dalam bentuk kesejahteraan. Rawan sekali jika kita
membiarkan saudara kita tersebut semakin banyak saja yang bertambah miskin. Mereka nantinya bukan saja miskin
harta, tapi juga miskin iman. Bisa tidak percaya lagi kepada kasih sayang Allah.
Bahkan, dikhawatirkan—demi mengejar
kebutuhan perut—mereka akan terperosok ke dalam perbuatan yang tidak bermartabat, seperti minta-minta dan bahkan berbuat kriminal. Seperti banyak yang terjadi di jalan-jalan protokol di Makassar. Bayangkan jika begitu banyak saudara kita yang
miskin, ini juga akan membahayakan kita yang dianggap mampu tapi tidak mau
membantu. Kemungkinan ada kecemburuan sosial dan kalau ada kejadian yang tidak
diinginkan mereka akan gelap mata.
Jadi, jangan berbahagia
apalagi tidak peduli terhadap orang miskin. Kita semua (tak terkecuali saya) yang hidupnya sudah berkecukupan harus membantu mereka. Seberapapun bantuan kita, akan sangat bernilai bagi mereka.
Ada puluhan juta orang miskin di negeri kita yang tercinta ini. Saudara kita yang kebetulan tidak mendapat kesempatan dan
mendapatkan ujian dengan menjadi orang susah. Allah memang menciptakan manusia, ada yang kaya untuk membantu yang miskin, dan ada yang miskin agar orang kaya bersyukur serta tergerak hatinya untuk membantu.
- Semoga Bermanfaat
Langganan:
Postingan (Atom)



